Janur di sepanjang jalan.



(Sabtu, 3 februari 2018)

#SaatnyaBercerita

"untuk menuju satu janur,  kita akan melewati beberapa janur di sepanjang perjalanan."
Dari ciputat saya langsung bertolak ke dongkal,  Tangerang tempat titik kumpul beberapa temen pesantren dulu, sebelum kemudian menuju tempat pernikahan temen, Rizka Safarahim.  

Perjalanan awalnya biasa-biasa saja. Udara ciputat lumayan segar. Cuaca rada mendung,  namun tak lama cerah kembali.  Seperti istilah "Cerah enggan,  Mendung pun tak mau".  

Maksud hati ingin membawa perempuan untuk setidaknya dapat menemani perjalanan panjang, dan membuktikan kepada teman teman,  bahwa aku tidak sedang menjomblo lho, ("bodo amat"prediksiku atas jawaban temen2 nantinya) haha.  Tapi, tuhan berkata lain,  karena berbagai alasan,  Si dia ternyata  tidak bisa ikut menemani karena ada kegiatan yg menurutnya jauh lebih penting. Huh,  dasar perempuan memang makhluk PlinPlan sejagat raya. Malam mengiyakan,  tiba tiba siangnya enak saja main membatalkan.  Untung saja, hati ini made in allah, bukan made in china,  apalagi made in batam. Tapi satu hal yang saya ingin katakan "bukankah itu bagian dari PHP?". #mikirkeras.
Oke. Lupakan.  

As we know, Macet bukan hal aneh di INDONESIA. Terlebih di JABODETABEK. Kayaknya "nggak asyik klo nggak macet".  Minimal,  karena macet kita bisa berhenti sejenak melihat keramaian,  berfikir tentang lingkungan sekitar. dan satu lagi.  Yups, tentu saja, menikmati kesendirian.  Haha..  So,  sekali lagi,  macet bukan hal aneh di tengah tanah yg tak lagi luas,  sementara diikuti populasi penduduk yg terus bertambah setiap harinya (Faktor : Kelahiran&Transmigrasi). 

Saya ingin jujur,  bahwa Macet ternyata telah membuat perjalanan menjadi semakin dramatis,  suasana semakin romantis,  hati dan perasaan mendadak melankolis.  Bahkan saya sampai berimaji kalau Ke 15 janur yang saya lihat di jalan-jalan, mereka seperti sedang berteriak dengan suara kencang, sekencang musik dangdut dalam pernikahan,  lalu mengatakan seperty yang anak zaman ini katakatan "woy...inget umur!!!  Nikah apa Nikah..!!! Diem diem baee.. Udah pada Nikah beloomm??". Haha.. 

Lalu, hal aneh apa yang ada di sepanjang jalan? 

Janur.  Ya.  Entah mengapa di jalan saya langsung terpikirkan untuk bercerita tentang hal ini. Simple saja.  Baru  saja, beberapa ratus meter motor melaju, tiba tiba saya sudah disapa oleh banyak janur di sepanjang jalan. Untuk itu, dengan kesadaran hati saya sengaja menghitung janur-janur yg saya lihat dalam perjalanan Ciputat sampai Dongkal (Kota Tangerang) . Total ada sekitar 15 janur dalam jarak 21 KM. (versi Maps).  Lumayan banyak. Dan memang banyak. 

Bayangkan, Indonesia punya luas sekitar 5.193.250 KM³, kalau dalam setiap 21 KM terdapat 15 janur saja, berarty sudah ada sekitar  16.487 Janur di Indonesia,  dalam satu hari.  Itu berarti ada sekitar 32.974 anak manusia yang melangsungkan pernikahan di Indonesia.  Sekali lagi. DALAM SATU HARI.  Amazing. Selamat, untuk 16.487 pengantin di Indonesia pada tanggal 3 februari 2018 . Semoga pernikahannya berkah dunia akherat. Amien. 

Kita tau, Janur telah lama membudaya di bangsa ini sebagai simbol pernikahan.  Berbagai versi cerita dibangun untuk memperjelas asal usul nya sebagai sebuah eksistensi. Tersebutlah Raden Angga Wacana (sebagaimana penjelasan di buku babad cijulang) ,salah satu tokoh agama di daerah sukapura, Kabupaten pangandaran. Jawa Barat.  Konon,  dialah yg mengawali Janur sebagai simbol pernikahan. pria ini ialah orang yang telah memenangkan sayembara kerajaan Cirebon. Adapun hadiah dari sayembara tersebut,  pemenangnya akan dinikahkan oleh putri kerajaan Cirebon. Tetapi Karena alasan telah menikah,  Raden anggara Wacana menolak permintaan raja untuk menikahkan putrinya. Singkat cerita,  Raden anggara pun akhirnya menerima dengan satu syarat, sebagai simbol ia ingin pernikahannya di hiasi dengan janur kuning. 

“Hingga saat ini, hiasan janur kuning menjadi budaya dan tradisi dalam setiap hajatan terutama hajatan pernikahan,” jelas Abah Kundil. 

Cerita nya memang absurd. Bahkan nyaris tak menjawab pertanyaan kenapa mesti janur kuning dan ada apa dengan janur kuning.  

Tapi bagaimana pun kita mesti menjaga dan menghormati cerita-cerita rakyat yang berkembang di masyarakat.  Soal percaya atau tidak, itu kembali pada nalar pemikiran kita masing masing. Toh pada akhirnya sesuatu yang ilmiah pun tidak akan pernah mengabaikan sedikitpun cerita-cerita yang tidak masuk akal sekalipun, Karena itu menjadi bagian dari data penelitian yg mesti mereka kumpulkan.
Janur memang misterius,  tapi tak kalah misterius,  yaitu orang orang yang melangsungkan pernikahan. Sebagai Jomblo saya ingin sekali bertanya pada mereka calon calon pengantin.  Mengertikah mereka akan substansi dari sebuah pernikahan?  Dan kenapa mesti ada perceraian?. Pernahkah kalian mendengar,  bahwa ketika ada orang yang bercerai,  pasti yang dikambinghitamkan adalah takdir bahkan tuhan sekalipun. Kenapa tidak akui saja perceraian sbagai sebuah kesalahan atau ketidakmatangan kita untuk menjalin rumah tangga.  Dalam agama sekalipun,  perceraian memang di bolehkan,  tapi cerai adalah sesuatu hal yang di benci, bukan?.  Maka berfikir matang,  bersikap dewasa sebelum mengambil keputusan.  Nikah bukan soal resepsi,  tapi soal kolaborasi,  menjaga, saling membangun,  dan satu lagi,  meredam ego. 

Janur kuning sudah memberikan makna yang sangat filosofis. Diambil dari kata nur,  atau nur ilahi yang berarti cahaya allah,  sementara kuning,  orang jawa menyebutnya sabda dadi (kun fayakun)  yg berharap setiap ucapan suci dalam pernikahan dapat terwujud.  Tak hanya itu,  filosofis pun berlanjut sampai membahas tentang spesifikasi jenis dan bentuk janur.  Haha...  Baru bicara janur,  belum bicara simbol2 lain dalam pernikahan. Banyak bukan?  Dari situ kita tahu, betapa sakralnya pernikahan.  Tentu saja jauh lebih sakral menjalani kehidupan setelah pernikahan. 

Maka pantas,  jika saya berasalan untuk tidak terlalu cepat dalam hal penikahan.  Disamping belum siap secara materi, dan calon nya yang masih "di Sembunyikan"  tuhan.  Saya ingin terlebih dahulu belajar dan memahami betul arti dan substansi dari pernikahan. Membaca,  dan bayak mendengarkan cerita dari teman teman yang sudah lebih dahulu menikah.
Saya mengapresiasi betul keberanian mereka, dalam hal pernikahan. Setidaknya mereka (mempelai lelaki)  telah berani menghadapi orang tua si pujaan hati. Hal yang belum berani melakukannya.  Haha...  Keberanian mereka seperti mengalahkan rasa takut.  Yah takut di tolak ayaj dan ibunda nya.  Hehe...  

Akhirnya,  saya merasa beruntung terlahir sebagai muslim, yang menganjurkan penikahan bukan malah melarangnya.  Islam is the solution of life.  Ditengah Betapa banyaknya agama dan faham,  atau keyakinan tertentu yang justru malah melarang pernikahan.  Bahkan di jepang,  ada pemahaman bahwa penikahan adalah perbudakan yang sesungguhnya ditengah kemandirian mereka dan kepercayaan bahwa tanpa pasangan mereka masih tetap bisa hidup, sementara menikah justru malah mempersulit ruang gerak, dan menambah beban hidup mereka.  Haha..  So, islam bertanggung jawab pada peradaban dan berlangsung nya kehidupan di dunia ini. 

Janur memang bukan budaya islam,  tetapi janur memiliki makna yang sangat islamis. Bukan?
Terakhir, saya mengucapkan selamat kepada Riska Safarahim dan Pasangan yang telah dengan khidmat melangsungkan akad prosesi pernikahan. Melihatnya tentu menjadi spirit, dan motivasi untuk tidak melupakan tugas suci umat manusia yakni menikah.  Dengan begitu, maka sempurna lah agama dan menjadi manusia seutuhnya.  Menjadi Ayah dan orang tua dari anak anak, nantinya..




 



























Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asssabi(Q)unal Akhirun

Mengundang Syahadat Dengan Cinta