••• Demokratisasi, cara sukses membina Anak •••
Perkembangan pendidikan di Indonesia di ikuti dengan banyak nya pilihan jurusan yang di tawarkan oleh banyak siswa maupun mahasiswa di setiap kenaikan jenjang pendidikannya.
Dari mulai tingkat sekolah dasar, sampai dengan tingkat sekolah tinggi/universitas banyak memberikan pilihan jurusan sesuai dengan minat dan bakat siswa/mahasiswa, guna sebagai wadah dan progres kehidupan di masa mendatang.Sehingga tidak salah jika pertanyaan yang kerap kali muncul di setiap benak siswa/mahasiswa adalah "akan jadi apakah saya kedepan?".
Sejak kecil anak anak di Indonesia banyak di suguhkan pertanyaan mengenai cita-cita dengan jawaban yang setidaknya sama "Nak, Kelak besar nanti, ingin jadi apa kamu?" Polisi, Dokter, Perawat, Pilot" jawab sang anak spontan.
Hal ini tidak lain menjadi semacam indoktrinasi orang tua terhadap Cita cita masa depan anak anaknya.
Walaupun saya pribadi bingung, alasan apa yang mendasari orang tua mengkotakkan cita cita yang sedemikian rupa ?
Tapi terlepas dari itu semua, manusia akan menemui realitas hidup nya masing masing. Cita cita yang di angankan dan di tanamkan orang tua sejak kecil mungkin saja hanya sebatas rayuan atau motivasi hidup sang anak.Justru kedepan, si anak saat menjadi siswa atau mahasiswa banyak di tawarkan pilihan berupa jurusan belajar dalam pendidikannya sehingga profesi pekerjaan yang di tawarkan tak sebatas yang di tawarkan orang tua sewaktu kecil (Polisi, perawat, pilot, dsb).
Namun sayang nya, terkadang untuk pemilihan jurusan untuk anak nya pun orang tua masih menggunakan perannya, setidaknya memilihkan jurusan untuk anak nya yang menurutnya pas dan cocok juga dinilai memiliki progress yang bagus.
Lagi lagi ini mungkin saja sebagai tanggung jawab orang tua yang bukan hanya membiayai namun juga menghidupi anaknya dengan memilihkan jurusan dengan bgtu orang tua akan mengarahkan anaknya pada jalur yang terbaik.
Modal Berbekal pengalaman dalam hidup orang tua mencoba mengarahkan anaknya sesuai dengan keinginan nya. Disinilah terkadang sang anak tidak memiliki kebebasan untuk menentukan jurusan sesuai dengan minat dan bakat. Sebab minat dan bakat nya di lihat dari cara pandang orang tuanya.
Kebebasan yang di batasi, mencirikan bahwa tidak berjalannya demokratisasi antara orang tua dan anaknya di dalam sebuah keluarga. Malah cenderung menggunakan sikap otoriter, seperti orang tua yg tidak akan membiayai pendidikan anaknya jika tidak sesuai dengan keinginannya.
Ini tentu menyalahi hak anak dalam memilih jalan hidup nya. Dan tidak baik membatasi anak dalam berekspresi. Sebab, pendidikan adalah tanggung jawab moral, bagaimana mungkin jika kaum terdidik mempertanggung jawabkan bidang ilmu yang ia geluti di masyarakat jika bidang tersebut tidak sesuai dengan minat dan bakatnya. Dan mungkinkan orang tua yang memilihkan jurusan bidang ilmu akan terlibat aktif dalam mempertanggung jawabkannya ?, Tentu tidak.
Kedua, ada kesalah fahaman cara pandang terhadap orientasi pendidikan (disorientasi), pendidikan kerap kali di artikan tidak lebih sebagai mesin pemcetak robot yang siap kerja di sebuah pabrik, ataupun perusahaan. Sehingga tidak berlebihan jika saya menyebutnya "pragmatisasi pendidikan".
Tujuan pendidikan tidak lagi memprioritaskan pembentukan karakter dan moral juga rasa tanggung jawab sosial, melainkan lebih kepada tujuan tujuan yang praktis seperti mencari kerja, memiliki usaha, dan berkerja sesuai dengan bidang dan jurusannya.
Jika hal demikian yang marak dan merebak pada orientasi pendidikan maka wajar jika berkembangnya pendidikan di Indonesia tidak di ikuti dengan pesatnya kualitas pendidikan, ribuan sarjana lulus setiap tahunnya, banyak orang terdidik memegang tampuk kekuasaan, tapi moral bangsa tidak terjaga, kerap kali melahirkan mental yang korup, kolusi dan nepotisme.
Oleh karena itu, bagi banyak orang tua di dunia ini, berikan lah kebebasan kepada kami khususnya dalam memilih jurusan bidang ilmu yang kami minati dan umunya jalan hidup kami.
Saya yang juga seorang anak, secara jujur turut bangga dengan orang tua saya yang sangat demokratis. Ternyata sikap yang terbuka dan demokratis itu tidak hanya d tentukan dengan kualitas atau tingkat pendidikan orang tua. Terbukti saya memiliki orang tua yang tingkat pendidikannya SD dan SMA. Tapi tingkat demokratis nya tidak di ragukan.
Bagaimana mereka tak lepas tanggung jawab untuk membiayai anaknya dalam pendidikan tanpa harus mengarahkan, menuntut apalagi sampai mengancam jika tidak sesuai dengan jurusan pilihannya.
Walaupun tetap menuntut karena selaku orang tua, namun masih tetap pada tuntutan yang standar seperti menjaga moral dan nama baik keluarga dan lainnya.
So, saran saya (Selaku anak) , dalam sebuah karya sudah selayaknya orang tua memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih jalan hidupnya, sebab apa yang di inginkan orang tua tak selama sama dengan apa yang di inginkan sang anak, tentu di akhir, saya yakin Keluarga Yang demokratis kelak akan melahirkan generasi yang tangguh bermental baja, transparatif, terbuka, jujur dan mengatakan apa adanya.
Komentar