••• Exsistensi Secangkir Kopi •••

Pahitnya kopi takkan terasa sempurna  jika ada pahit pahit yang lainnya. Menurutku, santapan ternikmat pada secangkir kopi terletak pada ketentraman Jiwa.

Bisa nya malam menyatukan chemistry dengan pahitnya kopi.  memungkinkan untuk selalu ada produktivitas saat berada pada dua kutub kemesraan itu.

Alih-alih kegaduhan ekonomi dan politik, baik lokal maupun Global. percayalah, tak sedikit pun hal itu Mampu mengusik romantisme keduanya.

Kesamaan sifat dalam gelapnya, memperjelas keindahan sebuah narasi yang bermakna tinggi.

seketika itu cerutu memainkan perannya sendiri. Dengan kesendiriannya ia menemukan hakikat nya sendiri....

Oh.. alangkah nikmat,  Cerutu ini, aku bayangkan bercerutu ria dengan sang pawahlawan Che Guevara di Cuba......

Secara perlahan kunikmati hisap cerutu bangsaku.

Asap hanyut dalam obrolan malam dengan Sang imaji.

Asal kau tau, cerutu bangsaku ini telah lama di akui dunia. Aroma cengkehnya membuat "addict" para pemakainya.

Ooooo..... Tiba lah kudengar suara jangkrik malam itu. Lambat laun ia mereshuffle peran elektronik blok Barat yg tertempel pada dinding dan tangan Ummat manusia. jangkrik itu pun mengubahnya menjadi budaya non-Blok ala Indonesia.

Kriiiikkk...kriiiikkk....
Sambil menikmati banyak nya kenikmatan
,Orat oret ku tetap mengalir pada secarik kertas putih di atas meja.

Malam itu aku bahagia dapat menulis bebas tanpa ada batas pun candu yg baku.

aku pun terbentur pada kebingungan .....

Tulisan macam apa yg ku goreskan Mlm ini ??
Dan siapa yg akan membacakannya ulang kelak ??

Hahaha.... (Aku tertawa)

Nampaknya tiada ... (Aku Bersedih)

Disitu aku pertama kali menganal kata "acuh".

Acuh untuk semua Keadaan yang maha Membingungkan......

dan pada akhirnya penulis hnya bisa berharap,
Semoga apa yg ia tulis tidak lebih dari ungkapan hati dengan syukur tiada bertepi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Janur di sepanjang jalan.

Asssabi(Q)unal Akhirun

Mengundang Syahadat Dengan Cinta