••• Konstruksi kesalahan pemahaman beragama •••
Banyaknya Agama-agama, faham keyakinan yang ada di muka bumi hingga saat ini, menjadikan kesimpulan pada pembagian agama dalam 2 kategori.
Ada agama Samawi (Langit), juga agama ardi (Bumi), dan juga ada lagi agama Budaya atau Lokal. Hal ini tentu masih tetap menjadi perdebatan di kalangan kaum beragama
Hanya saja fokus dalam opini saya kali ini adalah pada bagaimana orang mengkonstruksikan pemahaman tentang agama itu sendiri.Banyak nya kekerasan, kriminalitas sampai aksi teror (terorisme) yang sering sekali terjadi saat saat ini tentu menimbulkan satu pertanyaan mendasar,
Mungkinkah Agama mengajarkan Kekerasan, berkonflik, saling hina, saling bunuh, dan saling Teror ?? Nampaknya tidak.Tak satupun agama mengajarkan hal demikian melainkan agama mengajarkan perdamaian, kasih sayang, saling menghormati, dan kepekaan sosial sesama manusia.
Tentu dalam hal ini kita harus bisa membedakan antara "ajaran agama" dan "pemeluk agama".
Kalau tadi saya sebutkan bahwa agama sangat menjunjung tinggi perdamaian, maka sejatinya tak ada yang salah dari agama.
Sementara "pemeluk agama", sifatnya Heterogen memiliki karakter yang berbeda, sehingga ada dan banyak perbedaan di antara mereka, baik sifat, pola pikir, maupun tingkah laku.
Nah dari konstruksi pemahaman yang berbeda akan menghasilkan reaksi pola pikir dan perilaku yang berbeda dalam menanggapi dan mengaplikasikan ajaran agama.
Tapi terkadang ada saja, oknum yang sebenarnya konflik d bangun bukan karena alasan budaya, melainkan hal lain seperty ras, suku, dsb sehingga kebetulan yang berkonflik berlainan agama maka di Citrakanlah lah bahwa konflik ini karena agama.
Media dalam hal ini pun setidaknya juga terlibat dalam memframing berita dan juga mengkonstruksikan sebuah konflik sehingga konflik yang awalnya adalah konflik lokal / primordial, entah karena ingin mengambil banyak profit dari banyaknya perhatian penonton terhadap tayangan berita nya dengan mengesampingkan nilai nilai humanisme, edukasi, dan mengedepankan provokasi sehingga terciptalah Konflik Nasional.
Hal ini sering terjadi di masyarakat yang multi etnis, multi budaya, bahkan multi agama seperti di Indonesia.
Mala dari itu hal tersebut terjadi karena permasalahan 'Cara kita dalam mengkonstruksi agama yang kita yakini selama ini'.
Salam semangat beragama
Jadilah Makluk yang disayang Tuhan karena menyayangi Maklilnya.
Komentar