••• Aksi Transaksional •••
CERPEN
sejak siang pukul 12:00, alarm hp jafran berdering, tiba tiba teringan dengan jadwal aksi demonstrasi di istana presiden, setelah sebelumnya melakukan teklap (teknik lapangan) malam tadi. tanpa cuci muka seketika terbangun dan bergegas langsung ke sekretariat, disana juniornya pun sedang asyik tidur sambil mendengarkan musik, jafran berteriak dan mempersuasi juniornya untuk ikut bergabung bersama nya " ayooo.. bro bangun .. oyyy ouyyy bro hanguunnn bis sudah menunggu depan halaman aula, saatnya kita berjuang dan beraspirasi" ujarnya, dengan suara lantang lewat TOA milik organisasinya.
Sorak soray, teriakan orasi Jafran depan sekretariat di ikuti dengan rekan rekannya, sedangkan si OJI masih mempersiapkan bendera,mengambil banner dengan orat oret penolakan terhadap pemerintah. Si OLOY masih saja sibuk menggeledah jaket almamater organisasinya ke setiap kamar juniornya.
"Dimana kawanku...dimana kawanku... Datang kemari demi perubahan", nyanyi Jafran dengan penuh semangat dan totalitasnya. Memang Banyak juniornya yang mengagumi jafran, orang mengenal jafran sebagai demonstran yang ulung, suaranya mampu membangkitkan semangat teman teman yang lain, bak soekarno, suaranya menghujam ke atas langit memantul ke dinding bumi wal hasil menggema di ruang persada Nusantara.
Juniornya, Joni, Roy, dan juga Latif pun sudah mulai turun dan bergabung dengan pasukan yang lainnya di depan sekretariat.
"selamat datang kawan kawan... Selamat bergabung .. mari berjuang bersama untuk perubahan" ujar Jafran, "siap bang jafran" jawab Joni.
Latif berdiri di samping Joni, tiba tiba Handphone Latif berdering "drrrrttr......drrrrrttt.....drrrrrttt.....", Jonipun mengangkatnya "Hallo .... Waalailum salam, eh iyah ten, ada apa ??",
BeGini tif, dosen sejarah tadi mencarimu tif, beliau tadi menyebutkan nama mahasiswa yang sudah tidak masuk lebih dari tiga kali, dan mereka beresiko tidak akan bisa ikut perkuliahan di semester ini" jelas Uten,
"Lalu bagaimana ten ??" Tanya Latif
" Kalau saran ku, kamu lebih baik masuk sekarang, sebab kalau tidak, mata kuliah sejarah mu terancam tif" saran Uten kepada Latif
"Waddduhhh bagaimana yah.. masalahnya aku merasa tidak enak ten sama seniorku, hari ini aku sudah janji ingin ikut demonstrasi di istana ten" keluh Latif, sambil mengusap usap kepalanya.
"Yasudah tif keputusan ada di tangan kamu, aku hanya bisa memberikan kamu saran" tambah Uten dengan pasrahnya.
"Oke dah ten, terima kasih atas informasinya, nanti aku pertimbangkan lagi" gumam Latif sambil mematikan hape nya.
Alat alat aksi pun sudah siap, senya demonstran mulai berdiri dan membuat lingkaran di depan sekretariat, jafran mulai mengambil alih komando, " oke kawan kawan, sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada kalian yang berkenan menyuarakan aspirasi rakyat, kalian lebih baik daripada mereka (sambil menunjuk lalu lalang mahasiswa yg bergegas menimba Ilmu), kita ada untuk rakyat, dan kita berdiri atas nama rakyat" ujar Jafran sambil berteriak menggunakan alat pengeras suara.
"Angkat tangan kiri kita kawan kawan" berusaha mempersuasi demonstran yang lain.
Sekian banyak demonstran yang lainnya pun mulai mematuhi jafran sebagai korlap (koordinator lapangan).
Demonstran yang terdiri dari mahasiswa berbagai jurusan ini mulai menaiki bus seusai membaca doa bersama, sedikit demi sedikit bus itu mulai terisi penuh, di dalam bus banyak diisi oleh demonstran wanita, walau ada sebagian yang pria turut masuk kedalamnya, tapi ada banyak demonstran juga yang mengisi atas atap bus sambil mengibarkan bendera dan TOA.
melihat realitas seperty itu aku jadi teringat sekitar 10 tahun lalu, kejadian unjuk rasa para demonstran yang ingin mereformasi bangsa Indonesia khususnya di Jakarta, aku merasakan langsung bagaimana dinamika yang terjadi dan kerusuhan kerusuhan Yang ada, mungkin sampai sekarang d daerah rumahku tepatnya di Pluit, penjaringan masih ada bekas bekas kerusuhan para demonstran.
Mobil mulai berjalan, para demonstran mulai menyanyikan lagu lagu demonstrasi, disitu jafran diam sambil mengutak-atik ngatik Handphone nya, aneh memang, mungkin pikir yang lainnya kalau jafran sedang menyimpan stock suaranya untuk demonstrasi di Istana nanti.
TOA pun di ambil alih oleh junior nya, Seketika jalan jalan yang tadinya bising dengan suara suara kendaraan, berubah menjadi kebisingan ala demonstran, yang mereka ciptakan. Tidak hanya suara suara TOA, namun di tambah juga dengan pukulan Drum, sebagai peramai dan pembangkit semangat demonstran.
Dengan sangat cepat bus membelah jalan, sementara kendaraan yang lain memberikan jalan, entah dengan sangat terpaksa atau memang jadi bentuk apresiasi mereka terhadap aksi yang para demonstran lakukan.
Jakarta memang tidak pernah absen dari kata macet, wal hasil beberapa demonstran pun turun dari bus dan meminta kendaraan lain untuk memberikan jalan untuk bus mereka, aku melihat hal ini seperti ada dua kemungkinan, mereka layaknya sebagai pejabat yang meminta d buka kan jalan, ataukah mereka seperty arak arakan mobil jenazah yang juga melakukan hal yang sama.
2 jam berlalu sampailah mereka di depan istana negara. Disana sudah ada banyak demonstran yang lain, mereka pun disambut dengan teman teman yang sudah lebih awal sampai di Istana negara. ratusan polisi pun sudah mulai ramai, mereka sudah siap membuat barikade di hadapan para demonstran. Aku melirik nakal sedikit ke sekitar area polisi, gas gas pemadam api pun sudah siap sedia di samping mereka.
demonstrasi berjalan alot, Para demonstran mulai kesal dan salah satu dari mereka mengambil ban yg sudah di siram bensin. walhasil, api berkobar mengeluarkan asap hitam ke atas awan.
Massa aksi mulai melingkari Ban tersebut dengan sangat hati hati massa aksi merapatkan barisan guna tak satupun pemadam air polisi bisa memadamkan api tersebut.
Kami merasa tak di gubris, massa aksi semakin brutal, dorong mendorong terjadi antara massa dan polisi, satu persatu massa kami di pukul mundur petugas, demonstran perempuan mulai berlari ke pinggir area aksi, guna menyelamatkan diri agar tak terlibat jauh dalam aksi ini.
Sontak si Latief dengan teriakan menuju polisi dan menyelamatkan temannya yang ingin di ciduk aparat. Saling tendang dan pukul tak bisa di hindarkan semua sudah terjebak pada lubang emosi.
Keributan mulai mereda setelah salah satu dari teman kami ada yang tertangkap dan di masukkan ke dalam kantor polisi.
Kami tetap berteriak, jafran mengaudiensi berusaha mengeluarkan si Toni yang tertangkap.
Walhasil terjadi kesepakatan antara massa aksi dengan aparat.Tak lama Toni pun di lepaskan, pertanda aksi telah usai sebab itu kesepakatan dengan aparat.
Massa masih menyimpan kekecewaan yang mendalam terhadap tu rutan yang sama sekali tak di hiraukan. Di tambah dengan kebrutalan aparat sehingga banyak dari massa aksi yang terbentur perkelahian dan saling pukul.
Waktu sudah menjelang magrib
Demonstran pun berkumpul di sekretariat kembali, dibelikanlah minuman oleh seniornya. Sambil duduk dan bermandikan keringat bersama. jafran menegaskan "terima kasih kawan kawan, perjuangan kita tidak hanya sampai di sini,a ju terus pantang menyerah".
Setelah di tutup aksi ini, demonstran pun berhamburan kemana mana, terutama demonstran perempuan segera bergegas pulang, sementara yg lain ada yg masih d warung menikmati beberapa hidangan kopi dan bermacam macam rokok dan cemilan.
Usai aksi banyak rezeki, entah uang siapa dan darimana mereka tak memikirkan itu, yang ada di kepala bagaimana memuaskan rasa haus dan laparnya pada saat itu.
Tak sengaja Latif melihat Jafran di kejauhan sedang berbicara dengan seseorang. Entah siapa orang itu, besar mengenakan baju putih, celana hitam dan berpeci.
"Paling hanya obrolan biasa" ucap Latief sambil mendekati karena ingin tau,
Tak berapa lama, Latief melihat seperti ada transaksi diantara keduanya, pasal nya orang tersebut menguarkan uang dari dompetnya dan memberi Jafran dengan mata uang seratus ribuan,
Terlihat jelas nominal uang tersebut tapi Latif tak tau jumlahnya hanya saja uang tersebut cukup tebal.
Berselang sekitar 20 menit, mereka berdua pun berpisah diakhiri dengan saling bersalaman.
Karena jaraknya yg tak terlalu jauh dari Jafran Latief segera menyapa Jafran "Hei bang" sapa Latief pura pura tidak tau. Sambil mengantongi sesuatu yang ada d tangan Jafran terlihat sangat gerogi kedatangan Latif.
"Tadi siapa bang" tambahnya. A....a ..a.. ng...ngg..nggak, tadi senior Abang dek" jawab Jafran, "ada apa emang nya?", Nggak nggak apa apa," sambil tertawa Latif bergegas ke warung membeli rokok.
2 hari berlalu, Latief tak sengaja lagi. Kali ini mendengar obrolan Jafran di tlp dengan seseorang.
"Iyah bang, makasih yah uang apresiasinya yang 7 juta itu kemarin Abang kasih, nanty gampang lah aku kerahkan massa lagy sebanyak banyak nya bang, buat Abang.. ha..ha..ha. " sambil tertawa tawa Jafran bertelepon.
Latief merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan aksi demonstrasi 2 hari lalu, mungkinkah ini adalah aksi pesanan ? Mungkinkah aksi ini di bayar oleh seseorang ?, Mulai timbul sedikit rasa curiga dan kecewa letief pada si jafran.
Kalau betul adanya. Latief merasa sangat di khianati dan d peralatan oleh seniornya.
Ia berani berkorban demi di blacklist dari mata kuliah sejarahnya untuk kegiatan yang katanya untuk rakyat tapi ternyata pesanan.
Tak nunggu waktu lama ia pun memberanikan dirinya meminta penjelasan dari Jafran.
"Bang,,, saya mau minta penjelasan Abang terkait aksi kemarin, saya mau tanya bang, kemarin itu aksi murni dari kita atau memang ada pesanan bang?" Tanya Latief dengan menahan emosi dan kekesalannya.
"Maksud kamu apa ? " Tanya Jafran. "Aksi kemarin ya aksi murni lah karena kita ingin mengasuransikan suara rakyat dan memperjuangkan keadilan" tambahnya.
"Jangan bohong bang... Saya tau dan ada buktinya bang, lebih baik Abang jujur dan akan lebih terhormat bang, dari pada Abang teruz berbohong sedangkan bukti sudah saya pegang bang" saut Latief tak terima merasa di bohongi berkali-kali.
"Oke kalau begitu tip, sini Abang buka aja di depan kamu, sebenarnya aksi kemarin ada yang pesan tif Abang di kasih uang sebesar 7 juta tip untuk mengerahkan masa " jelas Jafran yang mulai terbuka dengan nada pelan dan hati hati.
"aduk bang saya pribadi tak bisa terima bang, saya merasa di khianati dan ler alat oleh Abang, sekarang izinkan saya bang untuk memberitahukan banyak orang khusus ya teman teman yg kemarin terlibat dalam massa aksi bang tentang hal ini" tak kuat Latief sambil terus menahan amarah dan kekesalannya pada Jafran.
Apa bwh buat, nasi sudah menjadi bubur , tak ada yang bisa di lakukan Jafran, sebab Jafran tau betul kalau Latief bukan orang yang kompromis dan bisa di ajak cingcay.
Tak lama, informasi dan berita ini tersebar ke seluruh telinga massa aksi waktu itu.
Mereka ada yang menanggapi santai dan marah tapi ujung nya lebih baik menggunakan ikhlaskan sesuatu yang sudah terjadi dan berharap tak terjadi yang kedua kalinya.
Disitulah reputasi Jafran turun hampir tak seorang pun yang mempercayainya.
Hal ini pun berdampak pada kebanyakan mahasiswa pesimis justru apatis atas perjuangan mahasiswa saat ini jika melihat kejadian yang seperti tadi.
Ada ya g mengatakan "mahasiswa sekarank beda dengan dulu, sekarank mah bisa d pastikan pragmatis semua, mau yang demo atau yang nggak kek, jadi prinsipnya g ada duit. G jalan, ada duit jalan sendirian".
Kisah yang saya buat ini bisa saja di bilang fimtif tapi bisa juga menjadi potret nyata mahasiswa saat ini.
Komentar