••• PR-Ku untuk sang Ayah •••
Saat ini usiaku sudah menginjak 22 tahun, proses perjalanan hidup untuk sampai sejauh ini banyak melewati cerita cerita yang menurut saya sangat inspiratif. Seperti anak anak pada umumnya
Salah satu tokoh yang selalu menginspirasi saya dalam proses kehidupan tentu sama seperti kebanyakan orang yaitu sosok sang ayah. Hal ini bukan sesuatu yang lebay dan saya tidak bermaksud untuk di anggap orang yang 'orangtuanisme' banget atau apa apa selalu membawa orang tua. Walaupun tanpa di katakan, secara spontan saya yakin orang tua selalu menjadi inspirasi bagi anak anaknya dalam hidup. Ya Itu sudah menjadi hal yang wajar.
Tetapi, dalam proses nya setiap anak dengan orang tua yang berbeda beda pastilah memiliki keunikan dan cerita cerita yang bervariatif, sehingga orang tua memiliki tempat yang teristimewa dalam hidup nya.
Saat mendengar sosok sang ayah, saya sendiri selalu saja di ingatkan dengan kuat nya memori kenangan sekitar 10 tahun silam. Waktu itu saya duduk di bangku MI (madrasah ibtidaiyah) pendidikan Setingkat SD (Sekolah dasar).
Keluguan, kepolosan, manja bahkan sampai tingkah tingkah yang pikir saya saat ini mendekati kata bandel, nakal, Badung dkk, masih menghiasi pola hidup saya waktu itu.
Zaman sekolah dulu, hari hari tak lepas dari sebuah tugas sekolah yang diberikan dan di kerjakan di rumah, atau disebut PR (Pekerjaan Rumah).
PR sendiri adalah tugas mata pajaran yang wajib murid mengerjakannya di rumah tentu dengan bantuan orang tua untuk di kumpulkan pada saat jam pelajaran tiba pada waktu yang telah di tentukan.
Saya termasuk orang yang sering mengerjakan PR dan mendapat nilai yang memuaskan, mulai dari pelajaran Matematika, IPS , Penjaskes (Pendidikan jasmani dan kesehatan), PLKJ, PPKN bahkan sampai pelajaran bahasa asing (Arab dan Inggris).
Hal itu saya dapatkan tentu bukan karena hasil jerih payah saya semalaman suntuk mengerjakannya. sebab dalam mengerjakan PR tugas saya tak lebih dari Notulen, atau pencatat PR. Waktu itu saya ingat, hanya memiliki keterampilan menulis yang buruk, tapi untuk akal nya siapa lagi kalau bukan orang tua.
Pr yang selama ini di tugaskan seluruhnya di kerjakan oleh ayah saya. Dari mulai tersulit sampai termudah pun ayah saya yang mengerjakannya.
Mungkin ini adalah ajang bagaimana orang tua sang anak di ingatkan kembali akan soal soal masa sekolahnya dulu.
Ibu ku lulusan SD, tak bernada meremehkan, ia hanya bisa berperan mengajari ku dalam masalah PR hanya sebatas yang ia bisa.
Ayah ku inilah sang pahlawan dalam urusan PR khususnya. Ia seorang karyawan swasta, karena statusnya tersebut wajar saja jika terikat sistem dengan pekerjaannya di kantor sehingga membuatnya sering pulang larut malam.
Karena ayah yang sering mengerjakan seluruh PR ku, Waktu itu saya sering merasa kesulitan untuk meminta bantuan mengerjakan PR kepadanya. Tapi waktu itu tanpa saya harus tau bagaimana kondisi ayahku dalam bekerja, Tak jarang saya sering sekali ngambek, menangis dan malah marah dengan ibu saya, berharap di sampaikan semua keluh dan kesah saya kepada ayah.
Sebab, jika saja ayah tak mengerjakan PR-ku, maka sudah bisa di pastikan esok pagi saya tak mengerjakan PR dan akan di menerima hukuman dari sang Guru.
Ayah ku jago sekali dalam urusan mengisi jawaban PR2 ku, hampir semua jawaban yang di berikan betul dan jarang sekali yang salah. Malah sampai saya sering mendapat nilai 100.
Waltu sudah larut, saya semakin khawatir, berusaha tak memejamkan mata lebih awal, karena sudah tau sebabnya pasti akan fatal. Cara apapun saya lakukan, tapi saya sering ngambek dan nangis untuk mengisi kekosongan saat menunggu ayah pulang, berharap hal tersebut dapat membuat sang ayah menyudahi pekerjaannya dan pulang mengerjakan PR ku.
Saat ayah pulang, biasa aku sering basa basi, mendapatkan kesulitan rumus, konsep dan tidak memahami pertanyaannya.
Untuk ayahku orang baik, selain menjelaskan rumusnya ia pun mengisikan jawaban jawabannya di buku coretan. Dan tugas saya hanya menyalin kembali tulisannya.
Begitu seterusnya yang saya lakukan dalam mengerjakan PR. Tugas ku hanya menunggu kedatangan sang ayah pulang dari kerjanya dan berkerja kembali untuk anaknya dengan mengerjakan semua tugas tugas sekolahnya.
Walau saat ini, saya sering menyesal dan tak percaya jika dulu saya sebagai anak yang tak memahami bagaimana kondisi sang ayah sepulang mencari nafkah.
Disamping ia lelah, pusing menghadapi banyaknya tugas perkerjaan nya, belum di tambah dengan omelan sang bos perusahaan. Ia juga butuh istirahat' dan berharap sepulangnya kerumah ia dapat stirahat lebih cepat. Karena esok pagi nya ia pun harus melakukan sesuatu yang sama yaitu bekerja.
Pernah suatu ketika sambil menunggu kedatangan ayah di rumah, tiba tiba tak sengaja aku terlelap tidur pulas. Dan membiarkan tugas tugas di buku ku, tergeletak di lantai.
Aku berharap sebangun pagi nanti ayah sudah menyelesailan selurub tugas sekolah ku.
Tapi tak seperty yang ku harapkan, PR itu tak satupun di kerjakan ayah. Nampaknya ayah begitu lelah waktu itu sehinggaangsung terlelap pula sehabis pulang kerja.
Jam masuk sekolah 08.00 masih ada waktu sekitar 30 menit lagi untuk aku membangunkan ayah dari tidurnya dan meminta mohon untuk mengerjakan semua tugasku dengan tangisan ayah ku pun terbangun dan mulai mengerjakannya.
Satu yang masih teringat pesan ayah "ayah g mau mebgerjakan tugas mu tanpa kamu harus tau cara mengerjakannya. Sehingha sewaktu waktu tanpa ayah kamu bisa mengerjakannya sendiri".
Hatiku mulai luluh layaknya gunung es yang terkena matahari, tetesan tetesan air mata mulai membasahi permukaan wajah.
Walau dengan senang hati karena selesai tugas Ki diselesaikan oleh ayah, tapi saya pun terharu dengan pesan bijak ayah.
Ia seperti menaruh harapan bahwa kelak anaknya harus menjadi anak yang mandiri, tak selalu bergantung orang tua, karena ayah meyakini suatu saat nanti hidup ku tak melulu dengan orang tua.
Bagi saya ini pelajaran yang sangat berharga dari seorang ayah, betapapun lelah yang ia hadapi tapi sang ayah selalu membantu anak nya dengan keikhlasan hati.
Semoga Menginspirasi.... :)
Komentar