••• Tuhan, maafkan aku menghiraukan Mu •••

Kumandang adzan menggema di langit biru sore itu, awan awan bersatu menyambut panggilan Tuhan, makluk bumi jeleous dengan kedekatan langit pada Tuhan. merasa di anaktirikan warga bumi berbondong bondong menggali kekayaan sebanyak banyak nya guna akan di pamerkan di hadapan langit bahwa kekayaan ini tidak lain karena Tuhan sayang lebih sayang pada warga bumi.

Aku salah satu dari Makluk bumi, kerjaan ku setiap hari benar seperti yang telah di katakan di atas tidak lain menggali semua kekayaan Tuhan d bumi tanpa menghiraukan sang pemberi. Aku keliling dunia dengan congak nya ku katakan tidak lain ini adalah rezeki Tuhan, tapi ajaran Tuhan aku lupakan dan sesekali saja ku kerjakan,

Aku menikmati betul khazanah kekayaan yg Tuhan miliki, tapi aku bersikeras untuk bisa memiliki nya sebagian,

Alasan yg ku buat pada makhluk sesamaku jika aku memiliki sesuatu yg dpt ku banggakan, bahwa ini semata mata agar aku lebih bersyukur pada Tuhan, semakin banyak negara, banyak tempat yang ku jelajahi semakin besar pula aku memuji kebesaran Tuhanku...

"subhnalalloh" Ucapku Pelan, di hadapan sesamaku yg juga setabi'at.

Hanya sebatas ucapan, entah jika Makluk langit tau dan mendengar isi hati dan Bathin ku, mungkin saja dia akan tertawa terbahak bahak tiada henti, sebab yg ku lakukan tidak lebih dari manipulasi.

Aku bagian dari manusia, banyak topeng yang bisa ku pakai untuk menutupi semua aib dan kekurangan ku.

Walau ku tahu kalau Tuhan maha tau, tapi ku yakin karena Tuhan tak pernah menegur secara langsung nampaknya Tuhan pun tak mau tau.

Aku berusaha menikmati semua hasil dan jerih payah ku sebagai Makluk dunia, walaupun sesekali terasa sesak Bathin ku harus terus seperti ini.

Hati kecil tak pernah bisa di kelabui, ia tetap meronta dan melawan apa yg sudah ku lakukan selama ini, ia berusaha mengembalikan ku pada seperti yang ia pernah kenal sblm nya.

Langit tetap membiru, dengan ketaatan nya yang konsisten, saat Tuhan berkata gelap, maka langit akan menggelap bgtupun saat Tuhan menginginkan terang langit segera menerang, pikirku, entah apa yang di dapat dari langit sehingga patuh tak ber alasan seperti ku.

Kehidupan berbalik 190%, Aku dengan usahaku, pula Tuhan ku yang hanya di bibir ku, hanya bisa melakukan sebatas yg ku mampu, angan menumpuk, mimpi tak terbendung, kepala ku serasa tak kuat menopang semua nya.

Saat itu lah aku butuh TUHAN,,,,,
Dulu aku merasa kenal dekat dengan mu
Dan tak ada satu masalah yg membekas di benak ku.
Masalah itu sirna tanpa aku bisa mengingatnya kembali.
Tapi saat ini ??  Aku tak lagy bisa mengenalmu, asmamu terasa jauh di ufuk sana, aku lupa cara sholat mu, lupa cara dzikirmu, juga lupa semua ajaran ajaran Mu.

Aku yg dulu taat, bercengkrama dengan dekapan kasihmu, tapi hari ini tubuh ku menggigil tak mau kah engkau mendekap ku lagy ??

Setelah jauh nya perjalanan tanpa hadir mu, aku merasa haus, Padang Sahara kehidupan banyak menguras tenaga dan dahagaku, hamparan prestasi, berlian, kekayaan banyak terhampar di hadapan ku. Saat ku dekati itu semua tiada.

Rupanya itu org dulu sebut  "Fatamorgana", mungkin aku begitu ngeyel dengan petuah nenek moyang ku Adam dan keturunannya.

Aku kembali dgn kehampaan
Aku tunduk dengan sejuta penyesalan
Aku mengais dengan kerinduan dekapan kasihmu mu Tuhan

Bimbing Hamba di Jalan Yang Kau Tunjukkan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Janur di sepanjang jalan.

Asssabi(Q)unal Akhirun

Mengundang Syahadat Dengan Cinta