••• Review "Politik dan Perempuan" •••
5 Books On September 2016
2/5 (Politik dan Perempuan)
Ini adalah salah satu buku serial politik untuk pemula, buku politik dan Perempuan memaparkan tentang beberapa fakta dan data keterkaitan perempuan dengan politik dari zaman dahulu hingga saat ini.
Bahwa perempuan sejak zaman Yunani Kuno dahulu, selalu berada di posisi yang sejajar dengan Budak dan berada pada kelas dua dalam sosial setelah laki laki.
Politik di identikan dengan laki laki, dan Perempuan sama sekali tidak memiliki relasi terhadap politik. Bahwakn ada yang beranggapan jika perempuan ingin berpolitik maka mereka harus seperty laki-laki.
Sehingga wajar jika perempuan menjadi target ataupun korban kekerasan, pelecehan, perkosaan, penganiayaan, dan sejumlah kejahatan lainnya. Karena saat itu kebijakan Politik di putuskan oleh banyak kaum laki laki yang justru sangat sedikit sekali prioritas nya terhadap perlindungan perempuan.
Di Indonesia sendiri, perempuan dapat bernafas lega setelah orde baru, dimana Megawati (presiden waktu itu) menetapkan kuota 30% keterlibatan perempuan di parlemen, dan beberapa partai besar juga mulai menyadari penting nya peranan perempuan suatu pemerintahan. Setidaknya jika banyak perempuan yang dilibatkan dalam proses kebijakan Politik mereka dapat mengaspirasikan apa yang selama ini mereka rasakan.
Lalu, kenapa perempuan harus dilibatkan dlm politik ? Karena dia adalah pelaku yang lebih bisa memahami kepentingan dan kebutuhan mereka sendiri.
Peristiwa RUU APP (Anti Pornografi dan pornoaksi) menjadi salah satu ketidakbijakan pemerintah dlm mengambil keputusan, pasalnya isi dalam RUU APP bukan lebih kepada melindungi Hak perempuan, melainkan malah membatasi kebebasan perempuan.
Bahkan bukan hanya kaum perempuan yg menolak RUU APP karna alasan gender dsb, tapi kaum seniman dgn alasan kebebasan berekspresi, dominasi aturan agama (Islam). Penolakan juga datang dari aspek adat istiadat seperti di Bali, Kalimantan dan Papua, bahwakn Birokrasi pemerintah pun ada yang menolak karena alasan mengancam aspek pariwisata.
Sebab lagy-lagy bicara sensualitas, erotisme, pornografi tidak pernah ada batasnya karena memang tidak ada rumusan hukum legal formal dan juga aturan konvensi. So masih atas dasar persepsinya masing masing.
Keterlibatan perempuan di ranah politik juga di perkuat dengan alasan pekerja rumah tangga (PRT) banyak di dominasi oleh perempuan baik di luar negeri ataupun di dalam negeri, dan tak jarang dari mereka mendapat kekerasan, dari majikannya.
Tidak sampai disitu, ancaman kekerasan terhadap perempuan juga terjadi di dalam rumah, diluar rumah bahkan di banyak tempat.
Tapi terbukti sejak pasca orde baru banyak politisi perempuan bermunculan dari berbagai Partai, diantaranya, Megawati Soekarnoputri , tumbuh Saraswati SH, Marisa Haque Fauzi, Rieke Diah Pitaloka dari PDI-P, Nurul Arifin dari Golkar, Khofifah Indar Parawansa dari PKB, Ani Yudhoyono dan Angelina sondakh (dari Demokrat)
Untuk itu, Menurut saya buku ini sangat cocok untuk tuk di baca para Pemula yang ingin mengetahui keterkaitan politik dengan perempuan.
Dan untuk perempuan khususnya, Anda seharusnya menyadari dan lebih mengamati kembali sosok tokoh baik laki ataupun perempuan yang memiliki konsen dan prioritas terhadap isu isu perlindungan perempuan.
Karena yang lebih menarik buku ini menjelaskan bahwa mayoritas pemilih dalam pemilu di dominasi oleh perempuan :)
So,
Dari Perempuan UNTUK Perempuan
Komentar