HUJAN KENANGAN

siang ini hujan deras. Duduk santai di dalam kamar mengutak ngatik kata di atas paper jadi kegiatan yang mengasyikkan. Asap kopi mulai di telan dingin, kondisi menjadi sunyi hanya rintik hujan yang menjadi ritme ritme terdengar indah di telinga.
 
Sepi mulai merangkai ingatan pada sebuah kenangan indah masa lalu. Kala itu, beberapa bulan lalu tepatnya, ketika kami di kumpulkan dalam satu ruangan. kami duduk di atas lantai beralaskan semen, berselimut karpet. Ruang dengan pembatas bilik disekeililngnya, meja belajar kecil terbuat dari kayu, dan papan tulis panjang melekat di tembok bilik ruangan.

Suasana menjadi semakin klasik, setiap sudut tempat kami belajar, seakan mengajarkan arti sebuah kesederhanaan. bahasa inggris, yang mungkin bisa membuat siapa saja menjadi sombong, congak dan arogan. 

Tempat ini membedakan bahasa bukan gaya melainkan sebagai kebutuhan yang harus kami sadari sebelum mulai mempelajarinya.

Disini kami mulai saling bertanya nama, asal sampai bertukar nomer kontak. Satu per satu diantara kami maju mulai memperkenalkan diri di hadapan teman-teman.

Berkenalan dengan menggunakan bahasa inggris yang seadanya. Logat daerah yang masih sulit dihilangkan, begitu kental terbawa saat kami berbicara. Kami mulai saling mengenal dan tertawa terbawa oleh canda dan kelucuan diri kami masing-masing. Semuanya menghilangkan rasa malu dan penuh percaya diri demi sebuah perkenalan yang tak hanya ingin menjadi sebatas teman. Melainkan sebuah keluarga baru.

Seminggu proses belajar berlalu, di luar jam pelajaran kami mulai saling kunjung mengunjungi tempat kami menetap. Ada yang memilih kost sebagai tempat tinggal. Ada juga yang memilih asrama. Hampir setiap malam kami berkumpul bersama untuk sekedar ngobrol, ngopi dan bermain UNO. Bedak-bedak banyak mencoret muka kami. Menambah keakraban sebuah pertemanan.

Malam semakin menjadi, pekatnya sudah mulai terlihat. Rasa kantuk menghantui kami, satu persatu dari kami berpamitan pulang malam itu. dan kami mulai berpisah.
Kami mengayuh sepeda dengan kencang, malu dengan wajah kami yang sedari tadi tercoreng banyak bedak, kami malah tersenyum senang dan bahagia. 

Final exam tiba, malam tak lagi sama seperti malam sebelumnya, kami mengeram diri dikamar untuk membuka buka mengulang pelajaran. Hanya ada satu dua chat bbm di grup teman-teman. Hari mulai serius. Kami baru sadar bahwa ada ujian esok yang menentukan nilai akhir kami. 

Selesai exam, kami bisa tertawa lagi bersama, menandakan program belajar kami telah usai. Cerita singkat 2 minggu lamannya sudah terlewati. Kini kami harus menyadari, bahwa satu persatu dari kami akan kembali, mengejar cita cita yang pernah mereka ceritakan kepada kami. Bilik bilik ruangan menjadi saksi bahwa kami pernah bersama, dan menjadi bagian cerita kehidupan kami.

Di akhir kami mulai merasakan arti sebuah pertemuan. Dengan berat hati kami merelakan perpisahan untuk sebuah kesuksesan. Kami menyembunyikan air mata kesedihan, kami berusaha menampilkan senyuman kebahagiaan.
Masing-masing kami mulai memberi doa dan harapan, kami yakin kelak akan menemukan kesuksesan.

Kriik..kriikk.. suara jangkrik terdengar kencang di malam perpisahan, awalnya kami tak peduli dengan suara itu, tenggelam dalam  lautan kebahagiaan besama teman-teman. Kini kami malah iri dengan si jangkrik, telinga kami begitu sensitive mendengar keramaian. “Tak ada teman yang abadi”, mereka akan datang dan pergi tiba-tiba, menyisakan segudang kenangan, dan kesedihan. 

Banyak orang bercerita tentang temannya, tapi itu adalah masalalu.
Kini, kata “kami” hanya menjadi sebuah “ingatan”, bahwa dahulu saya, anda dan juga kalian pernah menjadi “kita”. kata “kami” menjadi sebuah spirit, dan meyakini bawha kami memiliki teman hebat seperti kalian.

Kerinduan akan tetap ada dibenak setiap orang, hanya waktu dan jarak yang membuat semuanya terbatas.








Komentar

ardian handoko (#Ar_rha) mengatakan…
Keren gan. Penuh penghayatan (Y)
kalo berkenan, ditunggu kunbalnya ardi-niffa.blogspot.com

Postingan populer dari blog ini

Janur di sepanjang jalan.

Asssabi(Q)unal Akhirun

Mengundang Syahadat Dengan Cinta