Cintai Indonesia dengan Perasaan bukan Keserakahan
Hari-hari kemerdekaan di sesaki dengan penuh harapan dan doa dari seluruh masyarakat Indonesia untuk kemajuan bangsanya. Kegiatan seremonial dilakukan oleh penduduk negeri dari sabang sampai merauke. Bendera berkibar gagah terhempas bergerak mengikuti arah angin ke kanan dan kekiri. Disetiap rumah tercium bau kebahagiaan penghuninya. Lagu sakral Indonesia raya berbunyi nyaring keluar dari pita suara membuat melodi di angkasa raya. "Hiduplah Indonesia raya" Menutup nyanyian sakral nusantara itu. Indonesia didoakan oleh ratusan juta pencintanya. Haru biru, tetesan air mata, sesak dada, termenung, sedih, kerap mewarnai nyanyi, doa, tawa di hari itu.
Sementara saya, masih dilingkupi dengan perasaan bingung. Bingung karena, entah harus berbahagia atau malah kecewa. Pasalnya, saya harus menggabungkan dua realitas yang saling bertentangan dalam satu waktu yang bersamaan. Rasa rasanya mustahil. Tetapi tak apalah. Saya tidak mau ambil pusing. Hari ini, hari kemerdekaan, setidaknya saya mesti menjatuhkan pilihan saya untuk berbahagia, walaupun nantinya rasa itu barangkali akan cepat berubah menjadi kecewa. Saya hanya ingin berfikir sederhana untuk memaknai waktu sakral yang singkat ini.
Kemerdekaan adalah hari yang bersejarah. Tidak mudah diraih hanya dengan sekali ucap atau semudah membalikkan telapak tangan. Butuh keseriusan, pikiran yang matang, dan waktu yang tepat. Salah salah sedikit saja konsekuensi nya akan berdampak besar. Hari ini adalah momentum bersejarah yang kalau menyianyiakannya berarti sama saja seperti tidak mendukung kemerdekaan. Bayangkan, tanpa tebang pilih, Indonesia mempersilahkan siapapun untuk merayakannya. Sekalipun orang yang telah banyak merugikan, menyengsarakan, mengambil keuntungan untuk kepentingan pribadi, tetap boleh merasakannya. Termasuk seperti koruptor, penjahat, penjilat, dan penghisap kekayaan indonesia masih tetap diperbolehkah untuk merayakan kemerdekaan. Indonesia memang hebat. "terima kasih indonesia". Itu ucapan saya yang mungkin dapat mewakili mereka yang telah banyak mengambil keuntungan dari Indonesia secara tidak lazim.
Saya pernah bertanya kepada beberapa orang. Semacam survei kecil-kecilan untuk mengetahui apakah orang benar benar mencintai indonesia atau tidak. Pertanyaan sengaja saya tanyakan dengan orang orang terdekat saya. karena saya pikir mereka akan sangat jujur berbicara mengungkapkan perasaan mereka terhadap Indonesia, tanpa mereka tahu kalau saya sedang bertanya serius untuk dijadikan sebuah tulisan. Dari 15 orang yang saya tanyakan. Tidak diragukan, 100% semuanya menjawab cinta terhadap tanah air indonesia. Tetapi jawaban itu kebanyakan dilanjutkan dengan kata "tapi". Saya faham. Berarti ada semacam pengecualian yang ingin mereka sampaikan. Dan saya harus tahu saat itu juga. Tanpa basa-basi mereka mengungkapkan semuanya.
"ya iyalah, gua cinta banget sama indonesia di. Gua kan lahir disini. Tapi.. Ya begitulah. Gua bingung. Disaat gue mencintai indonesia, tetapi Indonesia seperti tidak mencintai gua. Gua hidup di indoneska tapi gua g merasa hidup. Menurut gua, Indonesia baru hanya sebatas House bukan Home. Jadi cuma secara fisik gua cinta indonesia tapi feel untuk bisa mencintai indonesia lebih jauh seperti Home itu belum ada" jelas Adi Darussalam.
Alasan Adi, membuat saya berfikir ulang tentang House dan Home. Ternyata tidak mudah untuk mencintai indonesia sebagai Home. Hal itu karena mencintainya mesti melibatkan feel atau rasa. Tentu saja siapapun tidak bisa memaksakan hal itu. saya punya kesimpulan bahwa kalau Indonesia sebagai home berarty Indonesia dapat menyediakan kenyamanan, keasyikkan, keseruan, bahkan kebanggaan penduduknya terhadap Negeri yang di dudukinya. Seperti penjelasan adi tadi.
Sementara yang terjadi berbeda. Bayangan kita terhadap Indonesia tidak sesuai harapan. Reformasi tidak menjanjikan perubahan yang signifikan. Semua seperti ilusi mimpi disiang bolong. Koruptor tetap menjadi penyakit nomer wahid yang sulit dicarikan penawarnya. Mereka seperti menggerogoti dagingnya sendiri. Saya menjuluki mereka psikopat psikopat intelektual. Kalau difikir fikir tak satupun dari mereka tidak memiliki latarbelakang pendidikan. Mereka adalah orang orang terdidik. Tentu saja kebanyakan orang berharap merekalah kelak yang akan menjadi tonggak sekaligus motor penggerak perubahan untuk Indonesia yang lebih baik. Entahlah, saya bukan tidak percaya atau menyalahkan pendidikan. Tetapi ternyata pendidikan tidak menjamin orang untuk berbuat baik. Karena pendidikan justru orang malah cenderung membodohi, berbuat picik dan licik hanya untuk memenuhi hasrat pribadinya.
Dulu, saya pernah mendengar ucapan ustadz ketika mengajar di dalam kelas "salah nya negeri ini adalah karena orang alim tidak mau menjadi kaya, dan orang kaya tidak mau menjadi alim". Tentu saja saya tidak membenarkan ucapan itu sepenuhnya. Sejak kuliah saya di ajarkan untuk berfikir lebih kritis dan menyandarkan setiap opini pada bukti dan data. Orang kaya yang alim. Sudah banyak. Begitupun sebaliknya. Terlebih dalam politik . Banyak orang yang mengerti, faham tentang agama dan telah cukup dikatakan alim. Tetapi tetap saja tidak berdaya ditengah pusaran koruptor yang begitu dominan. Barangkali ada tagline "tidak keren kalau tidak korupsi". Sementara ucapan ustadz tadi, mengilhami saya untuk berfikir bahwa kata "Kaya" bisa saja diasosiasikan dengan kekayaan materi, kekuasaan semacam jabatan dan kedudukan yang banyak orang perebutkan saat ini.
Indonesia adalah negara besar, dengan jumlah penduduk yang besar. Hal itu tentu beriringan diikuti dengan segudang permasalahan yang juga besar. Perlu kebesaran hati untuk menerima realitas dan merubahnya agar semakin besar dikenal dan diperhitungan di tingkat dunia. Telah Banyak siswa siswa berprestasi memenangkan berbagai macam kompetinsi bergengsi di kancah internasional. Atlet atlet olahraga yg mampu menunjukkan taringnya dan menyabet medali emas. Mereka benar benar memiliki jiwa yang besar untuk membesarkan negerinya mengharumkan indonesia. Mengenalkan kepada dunia bahwa di ujung dunia sana, terdapat negeri yang kaya, alam yang indah, sumber daya manusia yang berkualitas. Hal demikian barangkali dapat menjadi alasan mengapa kita mesti mencintai indonesia.
Saya percaya, mereka yang berprestasi tahu betul sesungguhnya masalah besar yang dihadapi negerinya. Kebebasan mendapatkan informasi dari berbagai media massa seperti TV, Berita dan maraknya media sosial khususnya, pasti membuat mereka tahu tanpa harus mengungkapkan kekecewaan mereka kepada masyarakat dunia tentang negerinya. Seburuk apapun kondisi negerinya.
Mereka akan tetap mengatakan "indonesia is an amazing country. Paradise in the wolrd". Dan dengan sejumlah kata-kata baik untuk menutupi aib, menjaga marwah dan wibawa indonesia di mata dunia. Walaupun saya tidak meragukan kecintaan mereka terhadap indonesia dan Kebanggaannya menjadi Indonesia. Mereka menentang logika, melawan arus dan memulai mencintai indonesia dengan perasaan. Melakukan perubahan dengan kemampuan yang mereka bisa lakukan. Indonesia memang keren. Disaat Prestasi anak negeri mampu mengharumkan nama baik indonesia. Sementara prestasi korupsi malah perburuk citra bangsa.
Transparency international (TI) melaporkan Indonesia telah ada pada posisi ke 90 dengan skor 37 dari 176 negara di dunia. Terhitung dikeluaroan sejak 26 Januari 2017. Ada kenaikan skor satu poin dari sebelumnya. Tetapi yang aneh malah terdapat penurunan rating sebanyak dua tingkat. menurut Kordinator indonesia Corruption watch (ICW), Donald Fariz, penyebabnya adalah dikarenakan belum maksimalnya reformasi birokrasi dibidang perijinan. Seorang peneliti transparasi internasional menjelaskan, bahwa harus ada upaya serius pemerintah indonesia untuk menangani korupsi sampai ke akar-akarnya. Indonesia harus melakukan reformasi fundamental. Membuka semua informasi kepada publik dan transparasi di antara sektor pemerintah dan bisnis.
Saya tetap saja tidak bangga. Walaupun saya mesti apresisasi atas capaian tersebut karena setidaknya ada sedikit perubahan. Bertahap memang. Tapi tetap jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti malaysia, brunei darussalam, atau bahkan Singapura, kita tetep saja tertinggal jauh dari mereka.
Ternyata benar merdeka bukan soal waktu, soal luas negara, soal kekayaan sumber daya, tapi soal keberanian untuk menjadi merdeka seutuhnya. Terlebih berkaitan dengan transparasi, dan rumitnya birokrasi sebuah institusi yang terkadang membuat masyarakat harus melakukan sampai beberapa kali disposisi hanya untuk mengeluarkan secarik kertas rekomendasi. Lebih parah, buruknya pelayanan, ribetnya birokrasi untuk menggunakan bantuan kesehatan pemerintah seperti BPJS, tentu saja ini tidak bisa dinamakan pertolongan pertama. Karena untuk menolong saja, negara harus menyulitkan orang lain. Saya faham itu oknum. Tetapi setidaknya hal itu menunjukkan lemahnya birokrasi bangsa yang besar ini. Bahkan dipandang rendahnya pemerintah oleh pekerja pegawai-pegawai pemerintah sendiri.
Meminjam perkataannya panji pragiwaksono seorang stand up commedian. Di bukunya "juru bicara" dia menuliskan "kalau di luar negeri, membangun karier itu ibarat tinggal mengambil jalan lurus. Ikuti saja jalan tersebut dengan tekun maka kita akan sampai ke tujuan. Klo bensin habis, akan ada pom bensin di pinggir jalan. Klo bingung akan ada rambu-rambu jalan yang mengarahkan. Di Indonesia membangun karier itu ibarat mengambil jalan yang banyak jalan belakangnya. (banyak jalan tikusnya). di Indonesia banyak Zombi, banyak yang hidup tetapi tanpa kehidupan. Hanya menjalani rutinitas keseharian tanpa pernah tau apa mimpinya, apa passionnya, apa yang akan membiatnya benar2 merasa hidup. Menurut panji, diluar negeri, untuk sukses, anda mesti pinter. Di Indonesia pinter aja nggak cukup. Anda mesti cerdik. Cerdik itu ilmu kehidupan, bukan ilmu sekolahan.
Kemudian, pertanyaan yang muncul dikepala kita adalah Lantas, bagaimana caranya mencintai indonesia yang dengan sejumlah permasalahan menjadi satu kesatuan paket yg mesti kita terima sebagai indonesia ? Jawaban saya sederhana. Cintai indonesia dengan perasaan. Dulu, saya ingat betul prinsip dalam sebuah percintaan saat kita mencintai lawan jenis, bahwa cinta itu walaupun bukan karena. Saat ini, barangkali juga begitu, kecintaan kita kepada Indonesia sedang di uji. Siapapun yang berhasil melalui ujian. Mencintai dengan apa adanya, akan berhasil untuk menjalani kehidupan secara realistis. Dan menjadi indonesia sejati.
Bukan hidup namanya disaat kita hanya mencintai kesempurnaan. Sebab dibelahan dunia manapun tidak ada yang menjanjikan kesempurnaan. Dan kita tidak pernah bisa menemukannya. Selalu ada kekurangan yang dengannya kita harus bisa menerima nya sebagai kesatuan yang utuh. Mencintai indonesia berarti menerima setiap kekurangan, masalah di Indonesia dan merubahnya tanpa harus ada rasa pesimis, putus asa apalagi kecewa. Karena percaha atau tidak, itu tidak akan pernah menyesaikan masalah.
Cintai indonesia dengan perasaan, bukan dengan keserakahan. Serakah memang tabiat manusia tapi akal budi adalah alat yang diberikan tuhan untuk menghilangkan tabait buruk manusia. Dan menetralisir keburukan.

Komentar