LANGKAH
( Cerita sederhana : aktivis juga romantis)
“Barangkali engkau
lupa. Kalau aku juga manusia. Aku punya cinta. Hanya saja cintaku kutunda untuk
sementara waktu. Perjuanganku menjadi bukti cintaku padamu. Suara cintaku di
jalan-jalan menjelma menjadi kata-kata keadilan dan baktiku pada kaum
tertindas. Aku melawan maka aku bercinta”.
Ciputat,
“Jilbab adalah bagian dari
kebudayaan”. Papar pemateri dalam diskusi rutin ba’da isya. Mendengar itu, Beberapa
orang yang hadir dalam kajian rutin tiba-tiba saja mengangkat tangannya.
pertanda ada pendapat lain yang ingin mereka sampaikan. Perang argumen dimulai.
Laki-laki dan perempuan bersorak antara setuju dan tidak. Sementara aku diam
sambil melihat hebohnya seisi ruangan kala itu. Ada kawan yang menanggapi
dengan penuh keseriusan. Ada juga yang menimpalinya dengan argumen konyol,
kocak, banyol penuh canda dan tawa. Semakin malam, perdebatan malah semakin
sengit. sementara aku hanya dapat memperhatikan caranya mereka berdebat.
Setiap ucapan aku dengar
baik-baik. setiap sumber yang mereka sebutkan aku ingat dan langsung saja aku
tuliskan sebisaku. “nggak bisa begitu dong, jilbab itu bukan budaya tapi bagian
dari ajaran dan syariat dalam agama islam”. Sangkal bedeng si anak sholeh.
Perdebatan rutin itu semakin
membekas. Aku mulai merasa bodoh diantara mereka. Aku memang mendengar setiap
yang mereka ucapkan. Tetapi tetap saja, ucapan mereka hanya sedikit yang dapat
aku fahami. Terlalu berat. Mereka menggunakan bahasa-bahasa langit. Sementara
aku makluk bumi dan entah kapan dapat melangit seperti mereka dalam berbicara.
Semakin aku ingat diskusi tadi,
semakin pusing kepalaku memikirkan hal-hal yang tidak perlu dipikirkan untuk
saat ini. Aku percaya pada proses. Biar waktu yang membawaku pada masa itu.
Tetapi entah mengapa, diskusi tadi tetap saja meninggalkan bekas. Bukan soal
diskusi. Tetapi soal jalannya diskusi. Aku ingat. Saat aku memandangi setiap
sorotan mata orang yang hadir. Tiba-tiba ada getar yang tak bisa kutahan.
Sorotan matanya indah. Tuturnya lembut. Langkanya pelan tak sedikit pun
terdengar suara. Tapi siapa dia ? Bingung. Sudahlah. Aku ngantuk.
Ingatanku tentang semalam sudah
sedikit pudar. Pikiranku sudah fresh setelah semalam suntuk aku bergembira ria
dengan mimpi-mimpi indah. mimpiku soal perjalanan, petualangan, pengembaraan
cinta di alam dunia. Hujan pagi mengusik tidur ku, alarm yang dipasang semalam
berdering kencang masuk memenuhi kedua telinga. Aku terbangun, jam kuliah masih
45 menit lagi. Di depan kamar mandi sudah ada beberapa orang yang sedang
mengantri menunggu giliran mandi. Dibelakangnya ada jejeran gayung berisikan
alat mandi yang juga ikut mengantri. Konon, gayung-gayung tersebut katanya mewakili
antrian orang-orang yang malas ngantri.
Mustahil aku melanjutkan antrian
mereka. Karena waktu 45 menit hanya akan menghabiskan beberapa antrian saja. Percuma. Itu sama aja menunggu pada
ketidakpastian. Sebab tujuanku kuliah, bukan mandi. Tetapi mandi adalah proses
yang perlu dilalui sebelum pergi kuliah. Sebagai mahasiswa yang santri (
sebutan orang yang pernah belajar di pondok pesantren) akalku tidak sedikit.
tidak jauh dari asrama tepatnya di seberang kampus terdapat masjid besar yang
menyediakan tempat wudhlu beserta kamar mandi. konyol, tapi mau bagaimana lagi.
Tidak ada cara lain kecuali mandi di kamar mandi masjid. Pakaian sengaja aku
pakai rapih layaknya ingin kuliah, walau muka terlihat kucel setelah bangun
tidur karena belum mandi. Alat mandi di dalam gayung aku pindahkan satu persatu
kedalam plastik dan dimasukkan kedalam tas, bersamaan dengan buku-buku kuliah.
Mandi selesai. Pelan-pelan aku keluar manapaki jalan pinggiran masjid, khawatir
kena omel karena telah mandi di kamar mandi masjid. Ternyata aman. tak satupun
yang tahu kalau habis mandi. sambil berjalan aku berfikir, ternyata masjid bagi
mahasiswa terkadang tidak hanya digunakan untuk wudlu, sholat, istirahat, dan
ibadah lainnya, tapi kadang dijadikan tempat mandi dalam keadaan darurat;
antrian panjang di asrama, waktu kuliah yang mepet, dan saat kehabisan air.
Sekarang lupakan soal itu semua,
saat ini aku adalah seorang akademisi di jurusan komunikasi penyiaran islam di
salah satu universitas di Jakarta. mengawali sebagai seorang mahasiswa, aku
mengenakan pakaian yang seadanya. Ibu membelikan baju kemeja yang dibelinya di
Pasar Tanah Abang seharga 100 ribu rupiah dan mendapat 3 baju. Ayah meminjamiku
sepatu selop miliknya sementara ayah menggunakan sendal saat bekerja.
Sebelumnya aku lulusan pondok
pesantren di tangerang. Hal itulah barangkali yang membuatku tidak pernah
melupakan “kopiah” hitam untuk disematkan di kepala. Cara bicaraku unik.
Beberapa kalimat saat bercengkrama selalu didominasi dengan istilah-istilah
arab, ayat quran dan hadist. Termasuk menyapa dan memanggil teman dengan kata
“ana ente”.
Sejujurnya, semakin lama, aku meras
asing. karena teman-teman justru menggunakan panggilan “gue elu”. aku yakin,
ini soal kebiasaan,

Komentar