Limited prouding




Matahari terbit dengan percaya diri, cahaya nya memasuki hingga ke ruang ruang kecil di muka bumi. sementara hujan tak berani melawan dan lebih memilih bersembunyi di awan-awan. Aku terlelap tidur hingga pukul 12.00 siang, semalam aku bergadang menikmati kopi flores asli daerah timur Indonesia. Kartu poker masih tergeletak dimana-mana sebagian tertempel di badanku yang sedari malam aku tak memakai baju. Hanya celana levis yang masih tertempel di tubuh ku.

Matahari terus menyoroti dari jendela yang tepat berada di hadapanku. Sudah sedari pagi matahari itu memaksaku bangun, tetapi mataku tetap berat untuk sekedar membuka dan menerima kilau cahaya mentari, sesekali mataku melihat silaunya mentari, lalu ku abaikan dan melanjutkan tidur ku.

Disebelahku ada suara aneh yang mengganggu telingaku, tidur tak lagi menjadi nyaman, suara itu berisik, nadanya motonon dan tak beraturan, setauku hanya volume nadanya saja yang beraturan dari suara yang kecil kemudian semakin mengeras. Tak ada pilihan, nafsu tidur ku sudah menghilang. Di sebelahku tergeletak si wandi yang juga sedang tidur. Tak lama aku menyadari bahwa suara berisik itu datang dari wandi, mulut nya menganga dan menciptakan suara yang pasti ia tak menyadarinya. Hebat sekali orang ini, mengganggu orang lain tanpa mengganggu dirinya sendiri. Tak sengaja aku robek secarik kertas yang berada tepat di belakang punggungku bekas semalam menghitung skor permainan. Tak lama langsung ku lipat kertas itu hingga berbentuk bulat sesegera ku hentikan suara bising itu dengan menyumpal mulut wandi yang sedang tertidur.

“Kriiingg...kriiing...”suara handphone ku berbunyi, “hallo, ini siapa..?” dengan santai ia menjawab “hallo, dani ini ayah, bagaimana kabar kamu di Jakarta?”, belum sempat ku balas ayah langsung menyambar omongannya “gini dani, ayah semalam baru saja sampai dari arab Saudi, sekarang Alhamdulillah ayah sudah sampai di jogja, tapi ayah tak punya waktu banyak hanya untuk hari ini, kira-kira kamu bisa tidak menemui ayah di rumah?”, dengan perasaan senang dan tak menyangka kalau ayah sudah ada di rumah, setelah 5 tahun aku, ibu dan keluargaku di tinggal ayah bekerja di arab Saudi. “serius ayah ada di jogja ??” aku lagi-lagi heran dan tak percaya, “bis..biss..bissa.. aku pasti bisa menemui ayah, sebentar aku akan pesan tiket kereta sekarang juga ya yah, tunggu aku ayah” dengan cepat aku segera bergegas, padahal handphone masih ada di kuping ku, “iyah ayah tunggu kamu di jogja yah, dan hati-hati di jalan nak”, tiba-tiba suara ayah menghilang. Mungkin pulsa ayah sudah habis, aku sengaja tak menelphone balik, karena aku lebih memilih bertemu dengan ayah daripada hanya bisa mendengar suara ayah dari kejauhan.

Aku buka aplikasi di handphone, aku lihat tiket kereta api yang masih kosong hari ini. Tak beberapa lama aku mencari ternyata masih ada beberapa tiket lagi, segera ku datangi gerai tiket kereta api terdekat. Muka masih kucel, rambut berantakan, sedikit ku basahi air agar tak terlihat kalau aku baru saja bangun tidur.

Gerai Pemesanan Tiket Perjalanan

“Ada yang bisa saya bantu mas” ucap si mbak cantik penjaga gerai tiket perjalanan. “iyah mba, saya mau pesan tiket kereta api ke jogja hari ini, masih ada mba ?” tanyaku sekaligus menjawab pertanyaan si mba cantik itu. “oh begitu, sebentar biar saya cari dulu ya mas”|jawab mba lembut. Tatapan mata si mba membuat saya betah dan tak mau keluar dari tempat ini. Tapi hari itu ayah menjadi prioritas utama ku. Sambil menunggu aku duduk di bangku yang telah di sediakan. Tetap saja aku tak bisa tenang, mulutku tetap berkomat-kamit berdoa semoga saja tiket itu masih ada dan aku bisa bertemu dengan ayah di jogja.

“Mas dani,” panggil si mba itu, “iy,,,,iyah mba” aku jawab dengan gugup mba itu membuat ku salah tingkah, “untuk tiket kereta api ke jogja hari ini masih tersisa sekitar 5 tiket lagi mas” jawabnya. “oke, mba aku pesan satu,, kira-kira keberangkatannya jam berapa yah mba” tanyaku cemas. Mba itu pun membalas “nanti sore mas sekitar jam 4.10 menit”.

Aku melihat jam di hanphone ku, saat ini masih jam 1.50 masih ada sekitar dua jam setengah lagi untuk aku siap-siap merapikan pakaian, mandi dan langsung berangkat ke stasiun.

Bukti pembelian tiket online sudah ada di saku ku, tinggal aku tukar di tempat penukaran di stasiun dengan tiket aslinya. Aku kembali ke kamar ku, tiba dikamar si wandi masih tertidur pulas. Aku bangunkan wandi, “wandiii….banguunn… tolong kamu antarkan aku ke stasiun kereta nyah sekarang, ayahku pulang dari arab Saudi ke Jogjakarta” sambil menarik tangannya dan menyiprati mukanya dengan air. Wandi pun bangun dengan mata yang masih terkantuk-kantuk. Aku faham dia tidak tidur selama 2 malam. Baru kali ini saja ia bisa tertidur. Tapiu aku pun dalam kondisi yang membutuhkan wandi, jadi seperti ada perasaan bersalah terhadap wandi. Tapi tak apalah sekali-kali. “oke dani, aku akan antar kamu, aku mandi dulu yah, tapi kok mendadak sekali dan ?” Tanya wandi dengan mata yang masih setengah terbuka. “iyah wan, soalnya aku pun baru apat kabar jam 12 tadi, “ jawab ku, “soalnya, ayahku tidak punya waktu banyak bertemu dengan ku, lusa ayah ku akan kembali bekerja lagi di arab Saudi” tambah ku.

Barang-barang ku masukkan ke dalam tas berukuran sedang. Aku selipkan beberapa buku di tas untuk menemani kejenuhanku di perjalanan. Wandi pun sudah siap mengantarkanku ke stasiun. “tenang wan, nanti sepulang ku dari jogja ku bawakan oleh-oleh untuk kamu wan” ungkapu berusaha menghibur wandi. “serius kamu dan, pokoknya aku ngak mau oleh-oleh yang biasa, minimal kamu bawakan oleh-oleh untukku gadis jogja yang paling cantikk” jawabnya dengan kebiasaan kayalan tingkat tingginya. Maklum si wandi orang sangat terobsesi dengan petuahnya bung karno “bermimpilah setinggi langit karena kalaupun jatuh kau akan jatuh di antara bintang-bintang”. Wajar si anak bungsu di keluarganya ini suka sekali bermimpi.

Jalan Menuju Stasiun

Wandi mengendarai motor nya dengan lumayan cepat, mobil-mobil di salipnya dengan sangat lincah, dia faham betuk kalau aku sedang terburu-buru mengejar waktu. Waktu sudah pukul 03.00, masih ada satu jam lebih lagi. Tak lama aku sampai di stasiun, aku pun berlari menukarkan bukti pembelian tiket ku di oenukaran tiket. Antrian lumayan panjang. Andai bisa menyalip seperti yang dilakukan wandi saat mengendarai motor. “Hmmm…” ujarku lemas, sambil tetap berdoa semoga keretanya terlambat datang.  

Giliranku menukarkan tiket, aku ketik satu satu angka pembelian, dan tak lama tiket pun keluar dari mesin, langsung saja ku robek dengan pelan dan sangat hati hati. Si wandi menunggu ku di gerbang pintu kereta.

“perhatian….jalur 5 segera datang kereta api jurusan Jogjakarta tujuan stasiun pasar senen”. Sudah ada suara kedatangan kereta. Dadaku semakin berdegub tidak sabar bisa melihat wajah ayah di jogja.

Wan… keretaku sudah datang, aku titip kunci kostan yah, dan terima kasih banyak lho wan kamu sudah sudah mau mengantarku sampai ke stasiun, kalau nggak ada kamu mungkin aku masih bermacet-macetan di bus angkot wan” kataku sambil memberikan kunci kostan. “iyah sama sama dani, semoga selamat sampai tujuan yah dan salam untuk keluargamu dirumah ya wan” jawab wandi dengan tersenyum bahagia melihat temannya bahagia. “tapi dan, bensin motor habis dan, aku tak punya uang lagi hehe...” ucap wandi dengan jujur. “hahah…. Oke oke wan, tenang, ini nggak seberapa maaf yah kalau kurang” sambil memberikan uang kertas 50 ribu untuk wandi. “ini sudah lebih dari cukup, selain bensin aku bisa donasikan sisanya untuk keperluan oksigen asap rokok ku dan hehe… terimas kasih yah dan, yang ikhlas lho” jawab nya sambil tertawa-tawa.

Perjalanan Kereta api

“syukurlah”, gumamku dalam hati. Kereta baru saja datang. Dan aku dapat memastikan kalau aku sudah aman berada distasiun dan tidak terlambat. Terima kasih yang tak terhingga untuk sahabat kostan ku, wandi. Mataku berusaha mencari-cari keberadaan wandi ditengah-tengah keramaian orang. Mungkin saja wandi masih di stasiun.  Tapi sayang. wandi sudah menghilang. Barangkali dia sudah pulang untuk melanjutkan tidur pulasnya yang terputus tadi karena aku bangunkan. Tidak ada yang salah dari tidurnya wandi, karena aku menyebutnya sebagai si pemimpi.

“teeeeeeeeetttt”, Suara peluit kereta api, terdengar kencang. Suaranya menyimpan rindu pada ayah yang tak pernah bisa aku tahan. pertemuan adalah satu-satunya obat bagi si perindu. Kalau ada orang yang bertanya apa keiinginanmu? Segera aku jawab ‘bertemu ayah’. Sejak 5 tahun lalu aku sengaja menyimpan rindu itu dalam-dalam. Dari sana, aku hanya mengadukan semua kerinduan pada tuhan. Tak satupun orang yang kubiarkan tahu tentang kerinduan ini. Kecuali mamah. Iyah mamah. Setiap menelpon mamah, pasti aku selalu bertanya, adakah kabar tentang kepulangan ayah. Dan mamah selalu  menjawab “belum ada nak, doakan saja yang terbaik untuk ayahmu”. Suara mamah lemas. Sepertinya mamah merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan.  

Tapi hari ini, aku seperti mencium angin surga. Mamah dirumah mungkin sudah senang dapat bertemu dengan si ayah pujaan hatinya. Begitupun dengan aku anaknya. tidak lama lagi kerinduan itu akan menjelma menjadi kebahagiaan yang aku rasakan saat bertemu ayah di rumah.

kereta pelan-pelan mulai berjalan meninggalkan stasiun. Setelah hampir 15 menit berdiam menunggu penumpang. masinis membunyikan suara kereta. Tanda kereta sudah siap berangkat. Mengarungi bahtera perjalanan selama kurang lebih 10 jam. Aku menaiki kereta kelas ekonomi. Murah meriah. Tidak ekslusif. Bangku nya dipasang berhadap-hadapan. Dihadapanku ada.....

Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Janur di sepanjang jalan.

Asssabi(Q)unal Akhirun

Mengundang Syahadat Dengan Cinta