Uang Kembalian
Dua hari ini saya selalu diingatkan oleh “kembalian” nasi
uduk yang belum dikembalikan oleh si penjualnya karena alasan tidak ada uang
receh. Hal itu tentu saja sangat
mengganggu ingatan. Setiap kali ingin beli nasi uduk, keesokan harinya ditempat
yang sama. Selalu ada pikiran, si penjual uduk itu kira-kira masih inget nggak
yah, soal uang saya kemarin yang belum dikembalikan.
Bukan perhitungan. Tapi
entah ingatan saya selalu punya ruang untuk mengingat hal-hal itu. Padahal kan,
gampangnya udah aja niatin shodaqoh, amal biar nggak jadi beban ingatan lagi.
Tetep sulit. Tidak semudah melupakan mantan.
Buat saya Hal yang sulit lagi adalah, saat hari-hari mulai berselang
kemudian saya mesti mengingatkan si penjual yang barangkali lupa atau tidak
ingat.
Soal “kembalian” itu. sangat membingungkan. Saya seperti dihadapkan
dalam dua posisi. Mengingatkan dalam
kondisi malu dan tidak enak atau membiarkannya begitu saja dan membayar nasi
uduk yang telah saya makan hari ini tetapi dengan soal “kembalian” yang tetap
menjadi ingatan.
Mungkin sudah menjadi sesuatu hal yang lumrah atau natural
ketika lupa dengan hutang atau kembalian orang lain yang mestinya dikembalikan.
Makanya wajar kalau dulu orang punya tradisi mencatat setiap hutang atau
kewajiban-kewajiban di buku tulis sebagai pengingat untuk ditunaikan.
Barangkali saya pun demikian. Ketika memesan minuman atau makanan di warung
kopi dan lupa untuk membayar apa yang telah saya pesan. Dan si penjual tidak
begitu saja lupa malah selalu ingat pesanan-pesanan yang belum saya bayar.
Satu waktu saya pernah punya pengalaman. Di warung kopi,
tempat biasa saya memesan sesuatu. Entah mengapa tidak seperti biasanya, saat saya memesan
minuman tiba-tiba saja pesanan yang saya pesan tidak kunjung datang. Tapi saya tetap menunggu. Saya ber-positive thinking. Barangkali si paman
(sebutan saya untuk si bos warung kopi) sedang sibuk, dan banyak pesanan yang
harus dia buat. Tak lama saya bingung dan berfikir. Sejak tadi saya memesan
sampai lamanya saya menunggu, tidak ada satupun orang yang memesan sesuatu.
Karena heran, saya berdiri dari bangku di depan warkop dan masuk ke dalam
menanyakan pesananan saya ke si paman.
Ternyata paman tidak sedang membuat pesanan apa-apa. Dia
sedang asik menonton tv sambil
menggenggam remote. Tanpa menegur si paman, saya sengaja buat pesanan saya
sendiri di warungnya sambil membiarkan paman asik menonton tv. Sambil mengaduk-aduk minuman, saya tidak
henti-hentinya berfikir, kenapa sampai si paman tidak membuatkan pesanan saya.
Mungkin kah si paman lupa, atau jangan-jangan pura-pura lupa. tapi kalau lupa saya rasa tidak mungkin. Pastti
ada yang tidak beres. Tapi apa. Akhirnya saya mencoba mengingat-ingat pesanan
saya yang belum saya bayar atau saya kelewat lupa setelah memesan langsung
pulang ke kostan.
Ternyata benar, saya
ingat kalau saya belum bayar indomie beberapa hari lalu. Tak lama setelah
menghabiskan minuman yang saya buat, saya langsung membayar minuman dan indomie
yang kemarin belum sempat saya bayar karena lupa. Walhasil benar, keesokan harinya
pesanan saya seperti biasa dibuatkan si paman tanpa menunggu waktu lama.
Walaupun dengan rasa tidak enak karena saya merasa salah dan membuat si paman
kesal kemarin. Begitu juga dengan si tukang nasi uduk.
sekarang saya yang gantian kesal gara-gara “kembalian”. Tapi yasudahlah. Sejak
di buatnya tulisan ini, dengan rela hati mengikhlaskan “kembalian” yang tak
kunjung di kembalikan. Setidaknya hal kecil itu telah menjadi pemantik saya
untuk menulis lagi.

Komentar