Memanusiakan Cak Nun


Pada kesempatan Maiyah malam ini, Kenduri Cinta (KC) hadir dengan tema "Dosa Kejujuran".
Nah, kebetulan banget ni, bagi anda yang kepo atau pengen tahu soal Mukoddimah atau latar belakang masalah mengapa KC mengambil tema tersebut, anda bisa langsung saja membaca dilaman resminya Kenduri Cinta ya http://kenduricinta.com/v5/dosa-kejujuran/

Soalnya kali ini, saya hanya akan bercerita sedikit banyak soal apa yang telah disampaikan oleh Cak Nun dan pengisi acara lainnya malam tadi. Termasuk bercerita tentang hal-hal unik dan menarik untuk diceritakan sekaligus mungkin saja bisa jadi bahan permenungan bersama dan refleksi kita sebagai seorang Manusia atau Makhluk Tuhan.

By the way, Acara kali ini lumayan seru, ya seperti malam-malam Maiyah pada umumnya, tidak pernah sepi dan selalu ramai pengunjung, meskipun tidak tau pasti berapa jumlah jamaah yang hadir, tapi umumnya lokasi Maiyah selalu penuh dan dipadati oleh banyak orang. Subhanallah.

Hanya saja, yang spesial, karena KC malam ini sekaligus menandai titik perjalanan KC yang sudah berusia 19 tahun lamanya.



Meski ditengah acara sempat diguyur hujan, namum anehnya para jamaah tidak Misbar alias gerimis bubar, justru sebaliknya, sebagian dari mereka, terutama perempuan diprioritaskan untuk maju kedepan berlindung dibalik tenda utama, sementara jamaah lainnya pun sama, mengangkat terpal duduknya dan berlindung dibalik terpal. Sebuah pemandangan yang luar biasa. Di Maiyah hujan bukan lagi menjadi petaka, justru malah jadi instrumen dan Rahmat untuk menambah kesan syahdu, dan keintiman sebagai sebuah keluarga diantara sesama jamaah.

Adapun saya, masih PW (posisi uweeunak) duduk dibelakang bersama dua temen kampus, Rifqi dan Alim, tetap fokus mendengarkan suara Cak Nun dari balik sound system, sambil berlindung dari hujan dibawah rindangnya pepohonan. Muantab. Haha..

Malam ini, Cak Nun memberikan banyak sekali gagasan dan pandangannya tentang banyak hal kepada jamaah Maiyah. Termasuk merespon dari materi-materi yang telah disampaikan sebelumnya oleh Ustadz Nur Shofa, Ustadznya Maiyah.



Salah satu yang disampaikan Mbah Nun ialah, bahwa dalam sebuah penelitian menjelaskan setiap manusia dalam 1 detik nya saja di alam sadar dapat mengingat atau mengetahui 40 frame tentang segala hal. Namun, dialam bawah sadar, setiap kita mampu mengingat 1.200.000 frame/kata dalam 1 detik, artinya alam bawah sadar jauh lebih besar memori ingatannya dibanding alam sadar yaitu alam pikiran. Dan bawah sadar itu adalah alam tanpa filter akal.

Maksud'e piye ? Gini kalau saya tidak salah nangkep, alam bawah sadar itu punya peran yang sangat penting terutama ketika manusia sudah tiada, kemudian jasad sudah berkalang tanah, dan otak yang katanya mampu menyimpan banyak memori dan ingatan saat itu sudah membusuk dimakan rayap, artinya otak sudah tidak lagi berfungsi, dan tidak lagi menyimpan ingatan apapun.

Maka untuk menjawab pertanyaan Malaikat, di alam Baqa dengan sistem hidup yang tentu saja sangat berbeda dengan sistem hidup di dunia sebelumnya, maka pertanyaan-pertanyaan Malaikat seperti, "Man Robbuka, Man Nabiyyuka, Wa Ma Imamuka, Wa Ma Kitabuka" tidak lagi di jawab melalui alam sadar, tidak juga melalui ingatan2 di otak atau pikiran, sehingga kemudian orang bisa saja merencanakan dan mengingat jawaban-jawaban apa yang akan mereka ucapkan.

Melainkan mereka menjawab secara refleks melalui alam bawah sadarnya. Artinya semua akan tergantung kepada seberapa besar alam bawah sadar (bukan alam sadar/pikiran) kita dalam mengimani Allah dan Rasulnya. Dan satu-satunya cara untuk dapat mengendalikan alam bawah sadar adalah dengan bersandar kepada Allah SWT.

Simple kan ? Santai saja tidak usah pusing, Cak Nun memang seperti itu, selalu membuat kita berfikir dan terus memaksimalkan fungsi otak dan hati untuk mengetahui segala hal yang belum kita ketahui. Artinya, jangan pernah berhenti untuk belajar dan terus mencari tahu ya.

19 Tahun, Mengenal Cak Nun Lebih Dalam




Nah diusia KC yang sudah 19 tahun, atau sudah 102 kali KC mengudara di jagat Nusantara, menemani dan membimbing ribuan jamaah setiap bulannya. Dalam kesempatan ini, Sepertinya, Cak Nun ingin para jamaah dapat mengenal Cak Nun lebih dalam, lebih jauh, lebih detail, dan mengenalnya secara apa adanya.

Karena bukan tidak mungkin dari banyaknya jamaah yang selama ini loyal kepada Cak Nun, ada diantara mereka yang mungkin karena terlampau mengagumi sosok Caknun kemudian sampai memperlakukan beliau secara berlebihan, menganggap Caknun seperti seorang Wali, atau malah mungkin dengan cara mensakralisasi seorang Emha Ainun Najib.

Untuk itulah, malam ini menjadi lebih dahsyat karena Mbah Nun dalam kesempatannya, mempersilahkan kepada salah seorang penggiat Maiyah bernama Mas Fahmi Agustian yang juga salah seorang Kordinator KC dan anggota redaksi dari Caknun.com untuk membacakan sebuah tulisannya tentang, "Siapakah dan bagaimanakah sosok Cak Nun Sebenarnya?".

Saya tentu saja tercengang kaget ketika Mas Fahmi membacakan tulisannya tentang Cak Nun. Banyak hal yang selama ini tidak saya ketahui, dan melalui tulisan itu saya mengetahui siapa Cak Nun sebenarnya. Terutama saat bagaimana beliau menyikapi sebuah permasalahan dengan sangat Manusiawi.

Seperti soal, Caknun yang terlanjur merasa kecewa dengan seorang panitia yang mengundangnya ceramah dalam sebuah acara, dimana Cak Nun sebagai narasumber utama hanya dibelikan tiket ekonomi dan disewakan penginapan hotel yang sangat murah, namun disisi lain, malah ada seorang artis yang padahal hanya sebagai pendamping malah dipesankan Pesawat kelas bisnis dan hotel mewah berbintang. Disitulah Caknun merasa kecewa. Sebagai manusia jelas Cak Nun mencemburui perilaku dholim itu, terlebih perannya hanya dianggap sebagai pelengkap, dan tukang memberi doa dan nasihat. Masya Allah.



Selanjutnya sisi Cak Nun lainnya yang dibacakan Mas Fahmi soal, betapa Cak Nun cemburu dengan banyak tokoh lain yang jauh lebih populer dibanding dirinya seperti Gus Mus, Quraish Shihab, M Sobari, Goenawan Mohammad, dan Amien Rais dan banyak tokoh lainnya yang melesat ke panggung popularitas meninggalkan jauh dirinya yang hanya dikenal sebagai seorang budayawan pinggiran. Padahal mestinya nama Cak Nun bisa jauh lebih populer dari mereka, karena dulu, Cak Nun sangat mungkin dan punya kesempatan untuk itu. Tapi takdir membawanya pada jalan yang lain, padahal Caknun kerap di undang ke Istana, permah dua kali datang ke istana hanya untuk menyarankan Soeharto dan Gusdur Untuk melepas jabatan dan mudur dari jabatannya sebagai presiden. Namun saat reformasi nama Cak Nun malah tenggelam, sementara tokoh seperti Amien Rais malah meroket naik dikenal publik, dan seiring dengan dilupakannya nama Cak Nun, pasca Reformasi Caknun mundur dari gelanggang perpolitikan negeri ini. Semakin tak dikenallah siapa dirinya. Mbah Nun, hanya dikenal orang tidak lebih sebagai Budayawan Pinggiran.



Tulisan mas Fahmi itu sangat dahsyat dan luar biasa, mengungkap sisi lain seorang tuan guru bernama Emha Ainun Najib, orang yang selama ini barangkali menjadi idola dan panutan bagi banyak orang, terutama para jamaah Maiyah.

Malam itu, melalui lisan mas Fahmi, saya jadi Banyak tau, tulisan-tulisan itu seperti menandaskan kepada kita semua bahwa se-wara wara nya Cak Nun, se-religius religiusnya Cak Nun, bahkan se-bijak bijaknya Cak nun, dia tetaplah manusia. Pernah Kecewa dan dikecewakan, pernah cemburu dan sakit hati, intinya pernah merasakan apa yang juga pernah kita rasakan.

Dan menurut saya, ini sebenarnya yang diinginkan oleh Cak Nun, dia selalu mengatakan, "Aku iki tidak seperti yang kamu pikirkan". Tandasnya kepada para jamaah.

Cak Nun memang ingin dirinya terhindar dari sakralitas pendengarnya, dia tetap ingin dianggap sebagai orang yang biasa, manusia biasa, dianggap sebagai teman dan sebagai sahabat ataupun sebagai orang tua bagi banyak orang di Maiyah.



Bagi saya Cak Nun memang selalu top dan mengagumkan, Top orangnya, Top juga penyampaiannya, meski banyak dari ucapan Cak Nun yang belum saya fahami, karena dalam penyampaiannya kerap menggunakan bahasa Jawa, dan masalahnya saya bukan orang Jawa, saya orang Sunda. namun kemudian saya terlanjur mencintai bahasa Jawa karena bahasa itu menjadi indah saat diucapkan oleh Cak Nun dan teman-teman Maiyah.

Tapi percayalah ini bukan cuma soal bahasa, karena nyatanya banyak dan beragama orang yang hadir dengan latar budaya dan bahasa yang berbeda. Tapi lebih jauh ini adalah soal kenikmatan dari sebuah persesuaian rasa. Atau "Shillatu Rasa" namanya.



Terus tiba-tiba ada yang nanya, "Lalu bagaimana dengan orang-orang yang kerap memfitnah, menghujat, dan memaki Cak Nun ?"

Maka saya akan jawab, "semakin orang memfitnah Cak Nun, semakin dia akan tau siapa
Cak Nun sebenarnya."


Sekian,-


Komentar

Anonim mengatakan…
"Tulisan mas Fahmi itu sangat dahsyat dan luar biasa"
Maaf mas koreksi lebih tepatnya itu tulisan Budi setiawan . Mas fahmi hanya sekedar membacakan. Mohon maaf kalo saya salah. Salam 🙏

Postingan populer dari blog ini

Janur di sepanjang jalan.

Asssabi(Q)unal Akhirun

Mengundang Syahadat Dengan Cinta