•••English Village, a New Hope (Kampung inggris, sebuah harapan baru)•••
Awal mengenal Kampung Inggris
Berawal dari rasa sebuah penasaran sejak masa aliyyah di ponpes daarussaadah akan keberadaan sebuah kampung di suatu kota yang ada di negeri kami, Indonesia. kampung yang tak biasa, memiliki tradisi yang berbeda dan banyak mencetak generasi generasi bangsa menuju kancah international ini tentu banyak mengundang perhatian sekaligus apresiasi masyarakat indonesia. iyah, kampung inggris namanya, kampung ini terletak di kota pare, kediri provinsi jawa timur, berdekatan dengan surabaya, nganjuk dan sebagainya.
Rasa penasaran yang saya rasakan menghantarkan saya pada rasa ingin tau kampung pare kota kediri yang disebut orang sebagai kampung inggris ini. kampung yang konon katanya masyarakat menggunakan bahsa inggris sebagai bahasa komunikasi sehari-harinya. sehingga wajar saja jika banyak sekali kalangan dari berbagai daerah dan lapisan masyrakat di indonesia maupun di luar indonesia seperti thailand, timor leste, malaysia pun mengunjungi dan menimba ilmu di kota ini.
awalnya persentase saya untuk mengunjungi kota ini kira-kira hanya 5% sampai 10% saja,tidak lebih. sudah sejak lama pula teman-teman bercerita tentang pare, metode pembelajaran kampung inggris, dan sebagainya. namun saya pribadi hanya bisa mendengarkan dan sesekali bertanya untuk menghargai cerita teman sekaligus menjadi sebuah strategi agar si teman terus bercerita panjang tanpa henti sementara saya tidak harus lagi mengeluarkan banyak banyak energi untuk bersuara.
dua jam berlalu saya menghabiskan malam ini dengan menyimak sebuah cerita tentang kampung inggris sambil meceritakan mimpi mimpi yang akan dia capai setelahnya menimba ilmu di kampung inggris.
membosankan memang, tapi apalah daya, saya sadar bahwa setiap orang memiliki mimpi, dan mimpi adalah hak setiap orang. oleh karena itu saya berusaha menjadi media untuk orang mengutarakan semua mimpi-mimpinya.
seusai teman bercerita, ada sedikit waktu untuk saya berfikir kembali dan membayangkan "kampung inggris". disitu rasa penasaran pun kembali hadir dalam diri saya, penasaran ingin tau lebih tentangnya, penasaran ingin mengunjunginya, dan penasaran ingin ada didalamnya sesuai dengan apa yang mereka ceritakan.
namun tiba-tiba dengan kondisi yang serba plin-plan,labillisasi ekonomi, di tengah tengah khayalan saya tentang apa yang telah diceritakan mereka, saya pun bergumam dalam hati "ngapain juga yah ke kampung inggris ?? apa penting nya belajar bahasa inggris ? wong tidak berbahasa inggris saja saya masih bisa makan, beli baju dan lain-lain. lantas kalau saya belajar bahasa inggris di sana, gunanya buat apa ?? sementara di keseharian saya hanya berhadapan dengan orang orang yang masih satu spesies, maksudnya disini masih berbahasa indonesia ?".
Rasa Ragu pun datang, cepat cepat ia menghantui dengan pikiran-pikiran konyol, dan ternyata keraguan itu berhasil merasuki alam pikiran untuk mengurungkan niat saya menimba ilmu di kampung inggris. simplenya "belajar bahasa inggris belum terlalu dibutuhkan untuk kehidupan saya kedepan".
Tak kenal Inggris di dunia akademis, membuat miris
seiring berjalannya waktu, jenjang pendidikan pun naik ketingkat selanjutnya, setelah 6 tahun saya menamatkan pendidikan MTS dan ALIYYAH saya di pon pes daarussaadah kosambi tangerang banten. saya pun bergegas melanjutkannya ke bangku kuli'ah dan menjadi salah satu mahasiswa fakultas ilmu dakwah dan ilmu komunikasi jurusan komunikasi penyiaran islam di universitas islam negeri syarif hidayatullah jakarta. dan yang terpenting saya berkesempatan untuk aktif dan bergabung dengan organisasi extra kampus yaitu( IMM )Ikatan mahasiswa muhammdiyah.
tepatnya di tahun 2015, 3 tahun sudah saya berorganisasi dengan banyak kegiatan dan aktivitas yang saya dan teman teman lakukan disini tentu dengan banyak pelajaran dan pengalaman tentang segala hal yang saya dapatkan. dan di penghujung tahunnya tepat pada bulan ramadhan saya mendapat kabar bahwa organisasi ikatan mahasiswa muhammadiyah tingkat pusat (DPP IMM) mengadakan acara semarak ramadhan, dan diisi dengan aneka macam perlombaan. salah satu lombanya adalah da'i dan da'iyah.
saya pun cepat bergegas mengendarai sepeda motor menuju lokasi diadakannya acara tersebut untuk mengikuti lomba cabang da'i dan da'iyah. dan saat itu, waktu yang dinanti nantikan membuat para finalis tegang yakni menanti pengumuman kejuaraan lomba. lain hal nya dengan saya, yang tetap santai dan tenang dan saya pun tak henti-hentinya bercengkrama dengan orang-orang yang pernah saya kenal. bagi saya menang memang tak menjadi tujuan, sementara menjadi yang terbaik itulah keinginan saya.
walhasil, saya di nobatkan menjadi juara 1 lomba da'i dan a'iyah. tak sangka tapi nyata, seperti mimpi, berangkat tanpa pesiapan materi sedikit pun. hanya modal PD, berani, dan nekad saja. tanpa mengharapkan hadiah apapun. jujur, motivasi mengikuti lomba dai pun sebenarnya hanya ingin bisa membeli sesuap nasi, serenceng kopi dan beberapa bungkus rokok untuk teman teman seperjuangan di ciputat. maklumlah kami hidup dalam satu atap, semua adalah orang perantau, yang mengadu nasib dan menimba intelektualitas. yang perlu di garis bawahi disini ialah "serenceng kopi dan beberapa bungkus rokok", iyah ibarat sesajen, yang dipersembahkan untuk pohon tua, makam, dan sinkretik lainnya. saya menyamakan dengan sesajen karena memang keduanya itu menjadi persembahan untuk mereka disini. sebab, dalam keseharian kami memiliki sebuah budaya literasi, diskusi yang kuat. tidak bermaksud lebay, terbukti dengan jam tidur yang tak teratur, bebincang dengan waktu yang panjang, tentu tanpa adanya kopi dan rokok ini akan mengancam kebudayan yang kami anggap banyak memberikan perubahan ke arah yang positif.
kalau di bulan biasa mereka yang sering berjuang untuk memenuhi kesejahteraan kami semua. di bulan ramadhan inilah saatnya saya berusaha untuk mensejahterakan mereka. hidup layaknya miniatur sebuah negara tanpa jabatan apapun namun memiliki rasa tanggung jawab dan kesadaran yang tinggi.
hadiah yang diberikan ternyata di luar ekpektasi, selain mendapat uang tunai, sembako, tentunya piala, dan satu hadiah lagi yang tak pernah saya sangka. yaitu diberikan kesempatan untuk mengikuti acara international youth organization di beijing china sebagai perwakilan organisasi kami se indonesia.
saya mengira awalnya MC bercanda, mana mungkin hanya mengikuti lomba da'i berani memberikan tiket tirai bambu kepada saya ? dan acara ini bukan hanya sekedar traveller melainkan kegiatan formal berupa konferensi yang hampir di ikuti oleh organisasi-organisasi pemuda dunia. dengan pertimbangan seperti itu saya berfikir kalau ini tidak benar dan hanya candaan semata. disisi lain saya bingung, teman teman lain tidak hanya mengucapkan selamat menjadi juara melainkan ada kata-kata "selamat yah berangkat ke china". bayangkan beragkatnya saja belum sudah di minta oleh-oleh.
se usai acara, saya bergegas pulang dengan rasa syukur dan bahagia saya dapat membawa suatu kebanggaan yang dapat saya persembahkan kepada orang tua, teman, rekan dan ikatan di ciputat tak terkecuali untuk dia yang selalu mensupport dengan penuh rasa dan totalitas yang tinggi ( ??? ). namun hadiah ini tentunya yang pertama sekali saya dedikasikan untuk mereka semua ikatan mahsasiswa muhammadiyah cbang ciputat. saya mau mereka bangga dan kagum akan keberhasilan saya.
membayangkan berada di negeri tirai bambu, menikmati secangkir kopi di negara berpenduduk terbanyak di dunia. menjadi orang penting walau sementara, bertemu dengan pemuda seluruh dunia dan berdiskusi tentang kemajuan bangsa. memang indah membayangkannya, tapi saya teringat sebuah pepatah "tak semudah membalikkan telapak tangan". iyah memang seperti itu kondisinya. saat itu saya tidak bisa berharap banyak dari angan-angan, menerima kenyataan yang sekarang dan harus lebih realistis nampaknya itu lebih baik untuk saya.
mohon maaf, kendala awal saya berangkat kesana hanya bahasa inggris, dari semenjak acara sampai hari keberagkatan saya diberikan waktu untuk mempersiapkan semuanya termasuk pasport, visa, dsb. sementara di bulan-bulan itu saya masih sangat banyak kegiatan dan aktifitas baik formal maupun non formal. seperti KKN, Ceramah ke luar kota, dsb.
sejak sebelum keberangkatan yang ada di pikiran saya hanya "Bahsa...bahasa...bahasa...". disanalah mulai muncul kembali keinginan-keinginan saya untuk berangkat ke kampung inggris. saat itu saya menganggap kampung inggris adalah solusi yang efektif untuk permasalahan bahasa saya. tapi harapan tidak sesuai dengan kenyataan. sulit sekali di waktu waktu itu untuk melangkahkan kaki merantau menuntut ilmu di kampung inggris. di samping memerlukan biaya yang tidak sedikit bagi saya, tapi juga jarak yang jauh. dan sedang dalam kegiatan KKN (kuliah kerja nyata).
tidak sampai disitu saya tidak berhenti berjuang, saya tetap belajar sesekali dengan rekan organisasi saya mahasiswa jurusan bahasa inggris. di sela-sela kegiatan KKN, terkadang saya bertanya soal bahasa, walau tak jarag hati saya sedikit iri dengan menyayangkan kenapa tidak teman saya saja yang beragkat, jelas-jelas dia yang lebih layak. apa jadinya kalau saya yang beragkat ?
inilah dunia akademis, cakap bebahasa inggris sudah menjadi syarat tak tertulis, disamping banyak film, lagu, dan sebagainya menggunakan bahasa inggris, bukan hanya itu bahkan pengantar kuliah pun sesekali berbahasa inggris walaupun tidak pada jurusan bahasa inggris.
nampaknya secara tidak sengaja, seluruh media mengajarkan kita pentingnya memahami bahasa inggris. selain menjadi bahasa international bahasa inggris pun menjadi bahasa ibu di sebagian negara. sehingga saya berfikir bahwa belajar bahasa inggris menjadi sebuah keharusan dan saya bernadzar setelahnya pulang dari beijing, akan menimba ilmu di kampung inggris kota pare jawa timur.
sebenarnya jika difikir-fikir bayak hal yang melatar belakangi saya mempelajari bahasa inggris. salah satunya sebgaimana yang saya ceritakan di atas.
terima kasih sudah mau menyimak dan membaca cerita saya semoga bermanfaat
dan untuk kelanjutan kisahnya saya akan sambung di episode selajutnya....
Dont go anywhere...
Berawal dari rasa sebuah penasaran sejak masa aliyyah di ponpes daarussaadah akan keberadaan sebuah kampung di suatu kota yang ada di negeri kami, Indonesia. kampung yang tak biasa, memiliki tradisi yang berbeda dan banyak mencetak generasi generasi bangsa menuju kancah international ini tentu banyak mengundang perhatian sekaligus apresiasi masyarakat indonesia. iyah, kampung inggris namanya, kampung ini terletak di kota pare, kediri provinsi jawa timur, berdekatan dengan surabaya, nganjuk dan sebagainya.
Rasa penasaran yang saya rasakan menghantarkan saya pada rasa ingin tau kampung pare kota kediri yang disebut orang sebagai kampung inggris ini. kampung yang konon katanya masyarakat menggunakan bahsa inggris sebagai bahasa komunikasi sehari-harinya. sehingga wajar saja jika banyak sekali kalangan dari berbagai daerah dan lapisan masyrakat di indonesia maupun di luar indonesia seperti thailand, timor leste, malaysia pun mengunjungi dan menimba ilmu di kota ini.
awalnya persentase saya untuk mengunjungi kota ini kira-kira hanya 5% sampai 10% saja,tidak lebih. sudah sejak lama pula teman-teman bercerita tentang pare, metode pembelajaran kampung inggris, dan sebagainya. namun saya pribadi hanya bisa mendengarkan dan sesekali bertanya untuk menghargai cerita teman sekaligus menjadi sebuah strategi agar si teman terus bercerita panjang tanpa henti sementara saya tidak harus lagi mengeluarkan banyak banyak energi untuk bersuara.
dua jam berlalu saya menghabiskan malam ini dengan menyimak sebuah cerita tentang kampung inggris sambil meceritakan mimpi mimpi yang akan dia capai setelahnya menimba ilmu di kampung inggris.
membosankan memang, tapi apalah daya, saya sadar bahwa setiap orang memiliki mimpi, dan mimpi adalah hak setiap orang. oleh karena itu saya berusaha menjadi media untuk orang mengutarakan semua mimpi-mimpinya.
seusai teman bercerita, ada sedikit waktu untuk saya berfikir kembali dan membayangkan "kampung inggris". disitu rasa penasaran pun kembali hadir dalam diri saya, penasaran ingin tau lebih tentangnya, penasaran ingin mengunjunginya, dan penasaran ingin ada didalamnya sesuai dengan apa yang mereka ceritakan.
namun tiba-tiba dengan kondisi yang serba plin-plan,labillisasi ekonomi, di tengah tengah khayalan saya tentang apa yang telah diceritakan mereka, saya pun bergumam dalam hati "ngapain juga yah ke kampung inggris ?? apa penting nya belajar bahasa inggris ? wong tidak berbahasa inggris saja saya masih bisa makan, beli baju dan lain-lain. lantas kalau saya belajar bahasa inggris di sana, gunanya buat apa ?? sementara di keseharian saya hanya berhadapan dengan orang orang yang masih satu spesies, maksudnya disini masih berbahasa indonesia ?".
Rasa Ragu pun datang, cepat cepat ia menghantui dengan pikiran-pikiran konyol, dan ternyata keraguan itu berhasil merasuki alam pikiran untuk mengurungkan niat saya menimba ilmu di kampung inggris. simplenya "belajar bahasa inggris belum terlalu dibutuhkan untuk kehidupan saya kedepan".
Tak kenal Inggris di dunia akademis, membuat miris
seiring berjalannya waktu, jenjang pendidikan pun naik ketingkat selanjutnya, setelah 6 tahun saya menamatkan pendidikan MTS dan ALIYYAH saya di pon pes daarussaadah kosambi tangerang banten. saya pun bergegas melanjutkannya ke bangku kuli'ah dan menjadi salah satu mahasiswa fakultas ilmu dakwah dan ilmu komunikasi jurusan komunikasi penyiaran islam di universitas islam negeri syarif hidayatullah jakarta. dan yang terpenting saya berkesempatan untuk aktif dan bergabung dengan organisasi extra kampus yaitu( IMM )Ikatan mahasiswa muhammdiyah.
tepatnya di tahun 2015, 3 tahun sudah saya berorganisasi dengan banyak kegiatan dan aktivitas yang saya dan teman teman lakukan disini tentu dengan banyak pelajaran dan pengalaman tentang segala hal yang saya dapatkan. dan di penghujung tahunnya tepat pada bulan ramadhan saya mendapat kabar bahwa organisasi ikatan mahasiswa muhammadiyah tingkat pusat (DPP IMM) mengadakan acara semarak ramadhan, dan diisi dengan aneka macam perlombaan. salah satu lombanya adalah da'i dan da'iyah.
saya pun cepat bergegas mengendarai sepeda motor menuju lokasi diadakannya acara tersebut untuk mengikuti lomba cabang da'i dan da'iyah. dan saat itu, waktu yang dinanti nantikan membuat para finalis tegang yakni menanti pengumuman kejuaraan lomba. lain hal nya dengan saya, yang tetap santai dan tenang dan saya pun tak henti-hentinya bercengkrama dengan orang-orang yang pernah saya kenal. bagi saya menang memang tak menjadi tujuan, sementara menjadi yang terbaik itulah keinginan saya.
walhasil, saya di nobatkan menjadi juara 1 lomba da'i dan a'iyah. tak sangka tapi nyata, seperti mimpi, berangkat tanpa pesiapan materi sedikit pun. hanya modal PD, berani, dan nekad saja. tanpa mengharapkan hadiah apapun. jujur, motivasi mengikuti lomba dai pun sebenarnya hanya ingin bisa membeli sesuap nasi, serenceng kopi dan beberapa bungkus rokok untuk teman teman seperjuangan di ciputat. maklumlah kami hidup dalam satu atap, semua adalah orang perantau, yang mengadu nasib dan menimba intelektualitas. yang perlu di garis bawahi disini ialah "serenceng kopi dan beberapa bungkus rokok", iyah ibarat sesajen, yang dipersembahkan untuk pohon tua, makam, dan sinkretik lainnya. saya menyamakan dengan sesajen karena memang keduanya itu menjadi persembahan untuk mereka disini. sebab, dalam keseharian kami memiliki sebuah budaya literasi, diskusi yang kuat. tidak bermaksud lebay, terbukti dengan jam tidur yang tak teratur, bebincang dengan waktu yang panjang, tentu tanpa adanya kopi dan rokok ini akan mengancam kebudayan yang kami anggap banyak memberikan perubahan ke arah yang positif.
kalau di bulan biasa mereka yang sering berjuang untuk memenuhi kesejahteraan kami semua. di bulan ramadhan inilah saatnya saya berusaha untuk mensejahterakan mereka. hidup layaknya miniatur sebuah negara tanpa jabatan apapun namun memiliki rasa tanggung jawab dan kesadaran yang tinggi.
hadiah yang diberikan ternyata di luar ekpektasi, selain mendapat uang tunai, sembako, tentunya piala, dan satu hadiah lagi yang tak pernah saya sangka. yaitu diberikan kesempatan untuk mengikuti acara international youth organization di beijing china sebagai perwakilan organisasi kami se indonesia.
saya mengira awalnya MC bercanda, mana mungkin hanya mengikuti lomba da'i berani memberikan tiket tirai bambu kepada saya ? dan acara ini bukan hanya sekedar traveller melainkan kegiatan formal berupa konferensi yang hampir di ikuti oleh organisasi-organisasi pemuda dunia. dengan pertimbangan seperti itu saya berfikir kalau ini tidak benar dan hanya candaan semata. disisi lain saya bingung, teman teman lain tidak hanya mengucapkan selamat menjadi juara melainkan ada kata-kata "selamat yah berangkat ke china". bayangkan beragkatnya saja belum sudah di minta oleh-oleh.
se usai acara, saya bergegas pulang dengan rasa syukur dan bahagia saya dapat membawa suatu kebanggaan yang dapat saya persembahkan kepada orang tua, teman, rekan dan ikatan di ciputat tak terkecuali untuk dia yang selalu mensupport dengan penuh rasa dan totalitas yang tinggi ( ??? ). namun hadiah ini tentunya yang pertama sekali saya dedikasikan untuk mereka semua ikatan mahsasiswa muhammadiyah cbang ciputat. saya mau mereka bangga dan kagum akan keberhasilan saya.
membayangkan berada di negeri tirai bambu, menikmati secangkir kopi di negara berpenduduk terbanyak di dunia. menjadi orang penting walau sementara, bertemu dengan pemuda seluruh dunia dan berdiskusi tentang kemajuan bangsa. memang indah membayangkannya, tapi saya teringat sebuah pepatah "tak semudah membalikkan telapak tangan". iyah memang seperti itu kondisinya. saat itu saya tidak bisa berharap banyak dari angan-angan, menerima kenyataan yang sekarang dan harus lebih realistis nampaknya itu lebih baik untuk saya.
mohon maaf, kendala awal saya berangkat kesana hanya bahasa inggris, dari semenjak acara sampai hari keberagkatan saya diberikan waktu untuk mempersiapkan semuanya termasuk pasport, visa, dsb. sementara di bulan-bulan itu saya masih sangat banyak kegiatan dan aktifitas baik formal maupun non formal. seperti KKN, Ceramah ke luar kota, dsb.
sejak sebelum keberangkatan yang ada di pikiran saya hanya "Bahsa...bahasa...bahasa...". disanalah mulai muncul kembali keinginan-keinginan saya untuk berangkat ke kampung inggris. saat itu saya menganggap kampung inggris adalah solusi yang efektif untuk permasalahan bahasa saya. tapi harapan tidak sesuai dengan kenyataan. sulit sekali di waktu waktu itu untuk melangkahkan kaki merantau menuntut ilmu di kampung inggris. di samping memerlukan biaya yang tidak sedikit bagi saya, tapi juga jarak yang jauh. dan sedang dalam kegiatan KKN (kuliah kerja nyata).
tidak sampai disitu saya tidak berhenti berjuang, saya tetap belajar sesekali dengan rekan organisasi saya mahasiswa jurusan bahasa inggris. di sela-sela kegiatan KKN, terkadang saya bertanya soal bahasa, walau tak jarag hati saya sedikit iri dengan menyayangkan kenapa tidak teman saya saja yang beragkat, jelas-jelas dia yang lebih layak. apa jadinya kalau saya yang beragkat ?
inilah dunia akademis, cakap bebahasa inggris sudah menjadi syarat tak tertulis, disamping banyak film, lagu, dan sebagainya menggunakan bahasa inggris, bukan hanya itu bahkan pengantar kuliah pun sesekali berbahasa inggris walaupun tidak pada jurusan bahasa inggris.
nampaknya secara tidak sengaja, seluruh media mengajarkan kita pentingnya memahami bahasa inggris. selain menjadi bahasa international bahasa inggris pun menjadi bahasa ibu di sebagian negara. sehingga saya berfikir bahwa belajar bahasa inggris menjadi sebuah keharusan dan saya bernadzar setelahnya pulang dari beijing, akan menimba ilmu di kampung inggris kota pare jawa timur.
sebenarnya jika difikir-fikir bayak hal yang melatar belakangi saya mempelajari bahasa inggris. salah satunya sebgaimana yang saya ceritakan di atas.
terima kasih sudah mau menyimak dan membaca cerita saya semoga bermanfaat
dan untuk kelanjutan kisahnya saya akan sambung di episode selajutnya....
Dont go anywhere...
Komentar