••• MELURUSKAN ARAH EKSISTENSI ORGANIASASI •••
Sebuah organiasasi dibangun atas dasar ideology yang di manisfestasikan dalam betuk visi dan misi. Visi adalah tujuan inti yang untuk mencapainya diperlukan misi yaitu sub sub bagian yang akan dilakukan demi tercapainya visi. Perlu kiranya sebelum kita bergabung dalam sebuah organisasi melihat terlebih dahulu visi dan misi untuk memperjelas arah dan langkah awal apa yang harus dilakukan. Sebab, tidak sedikit orang yang langsung terjun dalam sebuah oranisasi tanpa harus meliha visi dan misi,. Sehingga berakibat pada kesalah pahaman dalam arah dan tujuannya sehingga menimbulkan dosa keturunan.
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) misalnya, sebuah organisasi Mahasiswa yang merupakan ortom (organisasi otonom) dari oranisasi besar di Indonesia yaitu Organisasi Muhammadiyah. IMM dibetuk untuk mewadahi elemen pergerakan mahasiswa islam Muhammadiyah diseluruh Indonesia. Didalamya kita kenal Tri Kompetensi dasar yaitu : Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas. Ke tiga varibael ini merupakan sebuah komitmen dasar, bahwa menjadi kader IMM haruslah memperjuangkan nilai nilai tersebut untuk di internalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Nampaknya hal tersebut beriringan dengan Motto IMM yaitu: ”Unggul dalam Intelektual, Anggun dalam Moral, dan radikal dalam Gerakan”.
Tentu ini memposisikan IMM selaku ortom Muhammadiyah pada Posisi Midle (tengah) jika dibandingkan dengan ortom Muhammadiyah lainnya seperti IPM, Pemuda, dsb. Maksudnya adalah karena Kader IMM adalah kader yang masih menyandang status MAHASIWA ini berarti pada posisi tengah yang meghubungkan antara rakyat biasa/sipil dan government/Pemerintahan. Saya kira sebuah posisi yang amat strategis tapi juga miris. Dikatakan strategis karena pada posisi ini kader IMM membawa misi Mulia sebagai mahawsiswa yaitu seperti yang dikatan ir.soekarno “penyambung lidah rakyat” yang kemudian banyak juga yang mengatakan sebagai “penyampai aspirasi rakyat”.
Untuk mencari sebuah eksistensi saya kira bukan hal yang sulit dalam posisi seperti ini, melainkan amat sangat mudah. Karena, sejatinya tidak ada bedanya tugas kader IMM selaku Mahasiswa dengan tugas Seorang Nabi dalam hal tabligh/penyampai. Yaitu menyampaikan nilai nilai kebenaran, yang kemudian dilegitimasi, disepakati dan dijalankan oleh banyak orang. Hanya saja peredaaan yang mendasarnya adalah karena Negara kita menganut sistem Demokrasi Maka kedaulatan ada ditangan Rakyat, sementara dalam islam kedaulatan ada ditangan Tuhan, saya tidak ingin membahas jauh tetang itu karena akan ada bahasannya tersendiri tapi yang perlu digarisbawah disinii adalah bahwa IMM (Mahasiswa) membawa misi penyampai nilai nilai kebenaran, baik kebenaran yang berasal dari tuhan maupun kebenaran yang berasal dari rakyat.
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) misalnya, sebuah organisasi Mahasiswa yang merupakan ortom (organisasi otonom) dari oranisasi besar di Indonesia yaitu Organisasi Muhammadiyah. IMM dibetuk untuk mewadahi elemen pergerakan mahasiswa islam Muhammadiyah diseluruh Indonesia. Didalamya kita kenal Tri Kompetensi dasar yaitu : Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas. Ke tiga varibael ini merupakan sebuah komitmen dasar, bahwa menjadi kader IMM haruslah memperjuangkan nilai nilai tersebut untuk di internalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Nampaknya hal tersebut beriringan dengan Motto IMM yaitu: ”Unggul dalam Intelektual, Anggun dalam Moral, dan radikal dalam Gerakan”.
Tentu ini memposisikan IMM selaku ortom Muhammadiyah pada Posisi Midle (tengah) jika dibandingkan dengan ortom Muhammadiyah lainnya seperti IPM, Pemuda, dsb. Maksudnya adalah karena Kader IMM adalah kader yang masih menyandang status MAHASIWA ini berarti pada posisi tengah yang meghubungkan antara rakyat biasa/sipil dan government/Pemerintahan. Saya kira sebuah posisi yang amat strategis tapi juga miris. Dikatakan strategis karena pada posisi ini kader IMM membawa misi Mulia sebagai mahawsiswa yaitu seperti yang dikatan ir.soekarno “penyambung lidah rakyat” yang kemudian banyak juga yang mengatakan sebagai “penyampai aspirasi rakyat”.
Untuk mencari sebuah eksistensi saya kira bukan hal yang sulit dalam posisi seperti ini, melainkan amat sangat mudah. Karena, sejatinya tidak ada bedanya tugas kader IMM selaku Mahasiswa dengan tugas Seorang Nabi dalam hal tabligh/penyampai. Yaitu menyampaikan nilai nilai kebenaran, yang kemudian dilegitimasi, disepakati dan dijalankan oleh banyak orang. Hanya saja peredaaan yang mendasarnya adalah karena Negara kita menganut sistem Demokrasi Maka kedaulatan ada ditangan Rakyat, sementara dalam islam kedaulatan ada ditangan Tuhan, saya tidak ingin membahas jauh tetang itu karena akan ada bahasannya tersendiri tapi yang perlu digarisbawah disinii adalah bahwa IMM (Mahasiswa) membawa misi penyampai nilai nilai kebenaran, baik kebenaran yang berasal dari tuhan maupun kebenaran yang berasal dari rakyat.
Komentar