•••Menjelajah Ujung daerah Sukabumi (Geopark Ciletuh) Surga Wisata Kampung Kami •••

PUNCAK DARMA (Lokasi Wisata pertama,)


"Ngebut-ngebut dahulu, Sampe (Cape) Kemudian'

Hari itu begitu indah, mentari bernari mengelilingi desa kami. Aku adalah bagian dari desa ku, walau aku lahir di Jakarta, namun sampai sekarang jika ada orang bertanya aku asli mana? Maka aku lebih suka dan asyik menjawab daerah asal orang tuaku, Iyah, mamah ku asli sukabumi dan ayahku asli sumedang. Keduanya sama sama dari jawa barat. Walaupun kelahiran ku bukan di tanah yang ku banggakan, tapi aku lebih banyak mengenal orang dan orang yang ku kenal di kampung ini. Ayahku, mamah ku, bibiku, nenek dan kakeknya ku, ponakanku, keluarga besarku mereka semua meretas dan tumbuh di kampung ini.
Sinagar kolot,orang menyapa desaku, entah apa sejarah nya aku tak tau, toh kalaupun aku cari tau pasti tidak akan ketemu di mesin pencarian Google. Kalaupun ketemu pasty akan ada berbagai macam versi cerita. Bagi ku sebagai anak kekinian, tidak ada alasan untuk aku tidak mengikuti apa yang sudah nenek moyang tinggalkan. Aku yakin nama kampung ini adalah salah satu heritage (warisan) budaya berupa sebuah nama dari buyut buyut kami, yang kami di tugaskan untuk menjaganya.
Oh yaa ini kisah perjalanan ku bersama teman teman teman kampung ku. Aku berani mengatakan mereka adalah orang hebat, kenapa ?? Bagaimana tidak, banyak teman ku yang umurnya tidak jauh berbeda dengan umur ku bahkan ada yang lebih muda dari ku mereka sudah berani untuk mengadukan nasibnya ke kota dan bekerja di pasar desaku berada. Ada yang kerja di pabrik, garmen, otomotif, bahkan ada yang ngojek. Dan itulah potret masyarakat semuranku di tempat kami.
Hari Jumat, 8 juli 2016, adalah hasil rencana dan kesepakatan ku bersama teman teman, untuk mengadakan touring bersama, menyusuri pelosok sukabumi tepatnya di daerah Ujung Genteng, ada sebuah wisata yang belum lama di resmikan oleh pemerintah daerah, orang orang memanggilnya Geopark Ciletuh. Nah itu tujuan touring kami.
Walaupun masih berada pada satu kabupaten, tapi jarak antara desaku dengan tempat wisata tersebut lumayan jauh, kurang lebih 4 sd 5 jam perjalanan dengan menggunakan sepeda motor. Entah berapa lamanya jika menggunakan moda transportasi angkutan umum atau mobil pribadi. Aku tak mau pusing soal itu. Sebab yang kupikirkan bagaimana keberangkatan ku bersama teman teman datang dan pulang dengan selamat.
Hari itu, jumlah  semua anggota temanku yang berangkat ada 17 orang termasuk aku. Dengan brand motor yang berbeda beda, seakan masing masing menunjukkan kecanggihan motornya. Ya walaupun mereka semua tak berfikiran seperti itu.
Aku sendiri, mengendarai motor kesayanganku si matic besar 'Spacy', orang bilang, motorku body nya besar larinya kecil. Hehe...
Tak apalah, aku bangga, sebab ini pemberian dari ayahku, walaupun ku memilikinya tidak dalam kondisi baru, tapi aku tidak pernah berhenti untuk membuat nya seperti terlihat baru. Buktinya saja sebelum berangkat, aku ganty jok ku, aku ganty oli dan kampas rem ku, hehe.. (memang sudah kewajiban yah).
Aku berangkat tepat jam 13.00 WIB, setelah sholat Jumat di masjid kebanggaan ku bersama teman teman. Kenapa bangga ?? Masjid nya besar ?? Ada AC nya ?? Atau bangunannya megah ?? Hehe..
Bukan, mungkin itu definisi bangga menurut kamu, tapi tidak menurut ku dan teman teman.
Dari segi tampilan majsid kampung ku mungkin jauh dari kata megah, bahkan lebih pasnya sederhana. Maklum majsid kampung ku kan law profile, hehe..
Yang membuat ku bangga adalah selain menjadi masjid satu satunya di desa ku, tapi kegiatan keagamaan apapun di masjid ini tidak pernah sepi, ada saja kegiatan kegiatan dilakukan baik untuk kalangan ibu ibu dan bapak bapak, sayang nya kegiatan ini hanya ada jika libur tiba, ini dikarenakan kampung ku saat ini sepi, banyak warganya yang merantau ke kota dan mengontrak rumah di kota. jangan kan masjid, rumahpun suka sepi, di kampung ku, sebab di siang hari warga kampung ku banyak yang bermata pencaharian di kebun. tapi Walau bagaimanapun masjid di kampung ku menjadi pusat peradaban pendidikan agama Islam.

dan tak heran jika rencana perjalanan yang akan ku dan teman ku lakukan lakukan punberawal dari serambi masjid, masjid ini tempat ku berkongkow bareng teman, jika sudah bertemu dan duduk diseramnbi, apapun pasti di obrolkan, mulai dari masalah ibadah sampe masalah dosa pun tak jarang memeriahkan obrolan kami yang tiada berujung. radius perbincangan pun sampai pada dimensi yang entah apa namanya, sebab disitu ada cerita, mimpi dan cita.lamanya perbincangan yang aku sendiri berfikir tak ada manfaatnya, tapi dari masjid inilah lahir buah pemikira yang menurutku briliant, mengumpulkan teman teman dan mengajak mereka touring bersama.

dipenuhi dengan bayang bayang lokasi pemandian dan indah nya pemadangan puncak darma di akhir pekan, tempat yang menjadi ujung nya sukabumi, lepas laut pantai selatan yang berbatasan langsung dengan negara kanguru, menjadi spirit untuk menerima resiko jauhnya perjalanan.

walau aku tak pernah mendengar dan melihat wisata ini dari manapun, mendengarnya membuat ku yakin bahwa tempat ini pasti luar biasa. terlebih mendengar cerita teman yang sudah pernah berkunjung kesana, cerita yang seketika dipikiranku "ini lebbay, cerita kau terlalu berlebihan, hiperbola banget, over history," dan apalah apalah. nah saat itulah dengan segala keterbatasan sinyal di perkampungan dan hp yang seadanya aku memaksakan untuk "searching Googling".

dan ternyata benar, tempat ini adalah salah satu wisata yang sudah diresmikan  sejak 3 tahun terkahir oleh pemprov jawa barat dan UNESCO. wow... lagi lagi menambah rasa penasaran.








----------------------------------------------------------

Keputusan kira akhirnya bulat, untuk berangkat ke daerah sana, yaa sekaligus hitung hitung mempublikasikan produk objek wisata lokal di kampung kami umumnya untuk orang orang di mancanegara.

Gue dan teman teman kampung ds.Sinagar kolot  menggunakan moda transportasi motor untuk mengantisipasi kemacetan di jalan raya. Pasalnya, Hari keberangkatan kami percis dua hari setelah lebaran. Jadi prediksi pasty bakal macet banget.

Ternyata benar dugaan kami, walau sedikit melesat, artinya kemacetan tetap ada, tapi tak di sepanjang jalan, malah cenderung banyak jalan yang lengah dan kosong, tapi sama aja sebenarnya karena jalan yang kosong itu rusak parah seperti baru ada dinasourus lewat.

Touring bersama banyak motor memang ada asik dan tidaknya, asiknya ya dengan. Berombongan perjalanan agak sedikit ada yang mengarahkan, mana jalan yang rusak dan jalan yang tidak, dan kadang bebas hambatan macet karena pengendara yang lain lebih memihak untuk minggir ketika ada serombongan touring motor yang lewat, ya walau terkadang perjalan kami juga di warnai dengan Amarah pengen yang lain, yang mungkin kesal dengan ulah kami, ini yang sekaligus menjadi tidak enak nya touring, dan juga g enaknya lagy kadang mau tidak mau karena berjalan rombongan sehingga menuntut untuk tetap satu jalur dan tertib, artinya kendaraan tidak accak acakan, ini yang kadang buat bete, jalan g bisa santai, terburu buru, menerima resiko harus pintar salip menyalip,.

Tapi kali ini gue pribadi bangga,saat berangkat bersama rombinga tanpa lupa ibadah waktu sholat. Setiap waktu sholat tiba, itulah tanda kami harus berhenti istirahat' dan melaksanakan sholat wajib. Indah, sebab perjalana. Kami tidak membawa embel embel agama, tapi sangat agamis dan seperty wisata religi, hanya saja kostum kami, tidak menggunakan simbol2 keislaman.

Sepanjang jalan gue bisa prediksi, klo macetnya jalan disebabkan oleh pengendara yang bertujuan seperti tempat yang gue ingin tuju bersama teman teman,
Masalahnya, jalan itu tidak mengarah ke sudut kota melainkan ke pelosok kMpung dan desa , jadi kemana lagy klo bukan geopark celetuh ?? Hehe

Memang kata temen gue, wisata geopark cetuh, mulai ramai dua tahun terakhir ini, terlebih wisata ini sudah ramai di media setelah adanya peliputan Film "my life my Adventure" dan pengesahannya dari organisasi internasional "UNESCO".

Ini menjadikan banyak orang penasaran seperti apa sih geopark cetuh itu ???

Dan Di jalan, gue lihat bukan hanya kendaraan F (Jawa barat) yang berdatangan ke sana, melainkan ada plat (B), plat (D), dan plat2 yang lainnya.

Wow,,,, ini juga yang menambah rasa penasaran gue sekaligus semangat gue untuk sampai kesana, waktu itu sama sekali g ada perasaan mengeluh, karena telah dikalahkan eh perasaan penasaran.

Kurang lebih 4/5 jam gue menempuh perjalanan, tepat adzan magrib gue sampai di daerah geopark, tapi belum pada tempat wisatanya. Langsung saa kami bergegas ke masjid menunaikan ibadah sholat magrib, istirahat', cuci muka dsb.

Tak lama sehabis shat kami pun melanjutkan perjalanan ke pantai geopark Ciletuk, tidak jauh dari masjid hanya kira2 15 menit kami sudah sampai.

Sayang pantai tak terlihat indah sebab malam tiba dan lampu penerangan pun tiada. Hmm tapi tak apa, walau begitu kami tak membenci malam, kami selalu belajar dari pantai bahwa bersyukur itu tiada bertepi layaknya pantai,

Upsss.... lupa dari tadi sebenarnya perut gue sudah meronta ronta, berteriak menuntut haknya, tapi sayang gue g bawa nasi, berharap ada yang ngajak makan, eh taunya bener d ajak makan juga hehe ... emang baik bener dah ah temen temen ini

Makan dengan ikan asin, sambel dan timun, nikmatnya agak sulit diceritakan, sebab mKan di pinggir pantai, cahaya penerang bersumber dari lampu motor yang sepanjang kami makan motor itu terus dinyalakan, sensasi yang menurut gue berbeda, inilah yang banyak orang menyebutnya sebagai filsafat relativisme.

Makan selesai, tapi senikmat apapun makan akan terasa asem bagi kami ahli hisab (rokok), dan Kebanyakan merk rokok merek "Djarum Super", rokok yang klo gue di Ciputat terkenal dengan nama Rokok Pogging, haha karena mungkin baunya yang bikin mau mabuk, ya wajar sih, sebab kan d Jakarta sudah banyak polusi, masa mau di tambah polusi lagy hahah...

Makan selesai, rokok juga sudah, barulah ngantuk Datang, haha....
Mau tidur tapi dimana ?? Tenang, dari sebelumnya kita memang sudah mengontak orang sini, kita manggilnya Abah,  ia yang punya warung, saung, sekaligus tempat kopi di deket tempat wisata, walhasil selepas pantai, kami pun bergegas ke lokasi tempat Abah tinggal, tepatnya di bawah kaki puncak darma persis.

Di sana ternyata sudah banyak orang juga yang numpang parkir, dan tidur di bale atau saung nya Abah, kami pun berkenalan dengan wisatawan yang lainnya.

Sesampainya di sana malah bingung, rasa kantuk pun hilang, dan walhasil kami tak menghabiskan malam begitu saja, melainkan bermain gitar, bernyanyi, nyeduh kopi, ngemil dsb. Dan tak kalah penting nya, si Abah rupanya punya anak gadis, cantik lagy, ya lumayan buat menemani ngobrol dan bercanda malam kami disini, hehe...

Teman teman mulai menghisap anak si Abah, senjata pamungkas, dan kata kata gombalan pun mulai di keluarkan satu satu, membuat kami tak berhenti untuk tertawa, dan cenderung terbahak bahan, karena saking lucu nya hehehe.... Untung lokasi si Abah hanya ada rumah dan warung Abah, sekeliling nya malah kebon dan hutan jadi seberisik alapun kami tetap santai hahah... tertawa lepas mengobati rasa lelah dan mumet kami di sepanjang perjalanan.


Setelah sholat Shubuh kami bersiap siap untuk mendaki puncak darma yang katanya keren itu, perjalanan di tempuh kurang lebih satu sampai dua jam,

Yang saya ingin informasikan kepada pembaca bahwa jalan menuju puncak darma jauh dari kata sehat, hancurnya.ake banget maka saran saya jangan menggunakan motor, khawatir sampai di sana motornya malah turun mesin, ya walaupun ada juga yang make motor, kami orang yang tau dan mau mendengar, sehingga tidak seextrem yang mereka orang yang tidak tau lakukan, walhasil mereka pun pada menyesal,

Lebih baik jalan kaki menempuh satu sampe dua jam dari pada harus naik motor, dan lamanya pun sama karena memang jalanan yang rusak parah, menanjak, licin, dan bertanah, so jalan kaki aja ya


Nggak kebayang, klo kemaren tidak istirahat' dan stay semalam di rumah si Abah, begini aja berasa banget capek nya, huffffttt....

Tapi sesampainya di sana, terbayar sudah capenya perjalanan, dan masalah masalah yang ada di jalan. Hawa nya tenang dan lega bisa menghirup udara segar ditengah pemandangan yang begitu sejuk dan indah

Ternyata pas gue sampe di atas banyak juga yang udh sampe disana, mereka banyak yang mendokumentasikan perjalanannya di puncak ini, foto-foto, selfie, video dsb.

Wajar saja, karena memang momentum yang mungkin saya mereka hanya punya kesempatan sekali ke tempat ini.

Kami pun tak mau kalah, ikut mengabadikan momen kami di puncak darma ini, pemandangan sebagian persada Nusantara dari kaca mata puncak darma, hamparan lautan, hijaunya kebun, dan kapal kapal besar yang terdampar di tengah laut, mengundang decak kagum kami terutama pada Tuhan kami, ialah sang kreator indah nya alam ini. Subhanallooohhh....

Gtu aja  dulu ya guys, info dan cerita dari gue tentang Geopark Cetuh, baru satu tempat lho, (Puncak darma), setelah itu lo bisa main main ke 8 Curug yang ada di daerah sini juga, dan indah indah d jamin ga nyesel
















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Janur di sepanjang jalan.

Asssabi(Q)unal Akhirun

Mengundang Syahadat Dengan Cinta