••• Menulis Melukis Keberanian (Pram) •••


Siapapun bisa "MENULIS", dan lukiskan KEBERANIAN mu dengan menulis

Menulis adalah keahlian yang siapa pun bisa melakukannya. Hanya saja, kehalusan tulisan, pemilihan diksi, dan sastra yang membedakan karakter penulisnya. Kebanyakan dari mereka mengembangkan kepiawaian menulisnya dengan cara Berlatih sehingga para pembacanya lah yg secara tidak langsung menikmati jamuan tulisan sang penulis dan dapat menemukan ciri khas penulis dibanding dengan penulis yang lainnya.

Mereka (penulis) semua adalah orang orang tangguh dan pemberani. Keberanian menulisnya menghantarkanya pada keberanian merubah realitas yang di nilainya jauh dari kata pantas. Setahuku, seorang penulis memiliki prinsip dan idealisme dalam kepenulisannya. Sehingga tak jarang ideology, pandangan, interpretasi muncul dari beragam tulisan.

Kebijaksanaan penulis saat menyampaikan gagasan dalam tulisannya patut menjadi contoh bahwa dengan tulisan mengkritik seseorang haruslah dengan basis data dan teori, walhasil tak jarang sesama penulis pun saling beradu mulut melalui tulisannya masing-masing. Namun perlu d garisbawahi bahwa pertengkaran yang mereka lakukan dalam tulisan dilengkapi dengan basis data, fakta dan teori, mengkritik seseorang menjadi sangatlah elok, indah dan romantis. Sehingga terlepas dari terminologi "kritik" dan berubah menjadi kata "mengingatkan"

Keberanian menulis, mereka dapatkan karena apa yang selama ini mereka lakukan bukanlah sesuatu hal yang salah.

Walaupun tak jarang reaksi dari menulis mengancam kehidupan para penulisnya, sebab tulisannya mampu memunculkan reaksi bersifat multi enterpretetatif di kalangan pembacanya.
Tapi hebatnya penulis, bahwa keberanian itu bukan hanya dimiliki pada waktu menulisnya, melainkan keberanian itu pun hadir dalam mempertanggung jawabkan tulisannya terutama untuk generasi generasi selanjutnya.
Lihat saja Pram, bagaimana tidak banyak naskah naskah tulisannya yang dinilai melawan suatu rezim penguasa pada saat itu, sehingga naskah tersebut harus di lenyapkan. Tidak sampai disitu, tulisan tulisan yang siap dan sudah di cetak, kemudian di buru, dan dilarang beredar di negara asalnya. Dan Bukan hanya tulisan yang di dholimi, dirinya pun di masukkan ke sel penjara dengan kategori tahanan politik (tapol) tanpa pengadilan.

Nampaknya kita bisa mengambil pelajaran dari tulisan ini, bahwa spirit penulis adalah spirit keberanian, spirit yang merindukan perubahan, spirit tanggung jawab atas apa yg telah dilakukan.

Menulislah...menulislah
..dan menulislah....
"Sebab menulis melukis keabadian".

Apa yang kau anggap tidak bisa, yakinlah kau pun akhirnya takkan pernah bisa melakukannya.
Inilah "mental blok" yang selama ini menghantui alam pikiran banyak orang.
Dan yang harus di ingat adalah, what you say will be lost, what you write will be imatetly (Apa yang kau ucap akan hilang," tapi apa yang kau tulis akan abadi )
Terkadang banyak orang yang suka berbicara, berdialektika dengan ucapan tapi sukar berdialektika dengan tulisan.

Yang terpenting adalah bahwa apa yang kau ucapkan melalui tulisan tertanda kau sudah menyumbang perubahan pada peradaban bangsa dan dunia ini.

Untuk yang suka berbicara, MENULISLAH
Untuk yang suka menulis, KONSISTENLAH
Untuk para penulis konsisten, BIJAKLAH 

"Menulislah dengan hati, agar tulisan mu Sarat makna dan isi"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Janur di sepanjang jalan.

Asssabi(Q)unal Akhirun

Mengundang Syahadat Dengan Cinta