••• Refleksi Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) •••


Sebuah……Refleksi :

( Hari Pendidikan Nasional ) sebagai symbol kebangkitan penddikan di Indonesia
(Senin,  2 mei 2016 | oleh : Ardiansyah Fadli, Kader IMM Cabang Ciputat )



( foto : Ketika mengikuti acara International youth Orgnization di Beijing, China )

Pendidikan adalah sesuatu hal yang sangat substansial. Menjadi orang yang terdidik tentu menjadi harapan terbesar, bagi orang tua untuk anak-anaknya, bagi guru untuk murid-muridnya, bagi seseorang untuk pasangannya, bahkan bagi Negara terhadap rakyatnya. Keterdidikan seseorang menentukan penghormatan orang lain terhadapnya. Orang yang terdidik biasanya akan dihormati, disegani bahkan dikagumi. bukan hanya itu orang yang terdidik pula akan banyak dipertimbangkan oleh banyak orang.

Keterdidikan seseorang menjadikannya faham akan hak dan kewajibannya selaku manusia. Mereka akan mampu membedakan antara standar kebaikan dan ketidakbaikkan. Perilaku orang yang terdidik tentu menjadi perbedaan yang mencolok saat berinteraksi dengan orang lain.

Perbedaan pandangan, pola pikir yang progressif, perspektif yang matang dan reaksi atas aksi yang terjadi tentunya menjadi hal penting yang ada pada kaum terdidik. Oleh karenanya tidak sedikit orang yang mengatakan bahwa pendidikan menjadi ujung tombak majunya sebuah peradaban disuatu bangsa dan Negara
.
Kekalahan kerajaan mataram yang berkali-kali ketika dipimpin oleh sutan agung atas penyerangannya pada kolonialisme belanda di Batavia  misalnya, ini disebabkan karena pola pikir dan pandangan kerajaan mataram yang saat itu jauh dari kata terdidik, dimana kerajaan mataram memiliki pandangan bahwa alat perang seperti tank, senjata api, meriam dsb merupakan alat yang suci dan harus disucikan. Menurutnya alat-alat tersebut memiliki kekuatan gaib yang luar biasa.

Orang-orang dulu misalnya, ketika ingin menjadi seorang pemimpin pada satu daerah tertentu, mereka tentu akan datang pada orang orang yang memiliki kekuatan gaib seperti (orang pintar, dukun, supranatural dsb) untuk meminta wangsit, dan mengabulkan keinginannya. ini adalah permasalaan yang menghambat kemajuan suatu Negara yang disebabkan oleh pola pikir masyarakatnya, yang tidak bisa memandang kehidupan  secara rasional dan realistis.

 Pramoedya ananta toer, dalam bukunya mengatakan bahwa dalam hal kemuduran bangsa Indonesia kita sering menyalahkan kolinialisme, kaum penjajah seperti belanda, jepang dsb, padahal kemunduran bangsa Indonesia menurutnya tidak lain disebabkan oleh kemunduran bangsanya sendiri, yakni kebudayaan bangsa yang mundur, mental bangsa yang terjajah dan pandangan yang no sense.

Jika kita berkaca pada Negara yang jauh lebih maju dan mapan seperti amerika serikat, sejak dari dulu orang orang amerika memiliki pandangan yang lebih realistis dan rasional, pemaknaaan kata kesuksessan saja misalnya, menurut orang orang amerika, seseorang dapat dikatakan sukses apabila memiliki tempat tinggal yang layak, dan dapat merubah kondisi perekonomian yang jauh lebih baik dari masalalunya. Pandangan yang seperti ini lah yang menjadikan Negara amerika berkembang, maju, dan mapan sampai saat ini.

Perbedaan ini sangat jelas, jika dibandingkan antara Negara Indonesia dengan Negara amerika serikat. Negara budaya ini seharusnya merubah tatanan budaya-budaya yang menyebabkan lemahnya pandangan masyarakat terhadap pemaknaan kehidupan.

Negara ini dihadapkan pada perkembangan dunia yang menuntut rasionalitas atas kehidupan yang realistis. Nampaknya sulit bagi Negara yang memiliki kebudayaan lama yang cenderung tidak rasional untuk kemudian dipaksa berubah 180 derajat menjadi rasional. Butuh waktu yang cukup lama untuk merubah pandangan tersebut.

Namun sampai saat ini, kita melihat perubahan demi perubahan, nampaknya ada keseriusan dan tekad yang bulat masyarakat Indonesia untuk merubah kebiasaan lamanya dan berusaha menyesuaikan dengan perkembangan zaman saat ini. Terbukti dengan berkembang pesatnya instansi pendidikan negeri dan swasta mulai dari tingkat dasar, menengah sampai universitas.

Seperti halnya dua organisasi masyarakat terbesar di Indonesia, Muhammadiyah memiliki ribuan instansi pendidikan yang tersebar di berbagai kota di seluruh Indonesia. Begitupun NU memberikan sumbangsih berupa lembaga keislaman seperti pesantren dsb,  disis lain banyak berkembangnya LSM (lembaga swadaya masyarakat) dan organisasi-organisasi sosial lainnya. Ini Sesuai dengan perkataannya pram “didiklah masyarakat dengan organisasi, dan didiklah penguasa dengan perlawanan”. Masyarakat yang tak sempat mengenyam pendidikan formal tentu dapat bergabung dengan LSM ataupun organisasi-organisasi tertentu. Dengannya mereka akan  diajarkan banyak tentang segalanya, mengasah pola pikir, mempertajam pandangan, menemukan jati diri, dan banyak yang lainnya.

Sepertinya tidak ada alasan untuk saat ini, masyarakat tidak mendapatkan pendidikan. Sepeti yang kita ketahui bahwa Pendidikan adalah hak setiap warga Negara, dan oleh sebab itu  Negara dan swasta bergandengan tangan berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat akan hak-haknya.

Pemerintah menetapkan Setiap tanggal 2 mei diperingati sebagai hari pendidikan nasional (disingkat;HARDIKNAS), tanggal itu bertepatan dengan kelahiran sang maestro ki hajar dewantara yang merupakan Pahlawan Nasional sekaligus menjadi Bapak Pendidikan Nasional di Indonesia.

Ki hajar dewantara dalam kiprahnya membangun bangsa melalui jalur pendidikan, belau pernah mendirikan Taman Siswa yaitu nama sekolah yang didirikan pada tanggal 3 juli tahun 1922 di Yogyakarta. Seperti halnya sekolah-sekolah lain saat ini yang memiliki visi dan misi sebagai sebuah representasi dari prinsip-prinsip yang diterapkan dalam  kegiatan belajar mengajar. Beliau memiliki prinsip dasar yang dikenal dengan Patrap Triloka, yang isinya (dalam berbahasa jawa) adalah :

 1.   Ing Ngarsa Sung Tuladha : yang di depan memberi teladan
2.   Ing Madya Mangun Karsa : yang di tengah membangkitkan kehendak
3.   Tut Wuri Handayani : yang di belakang menggerakkan / mendukung

Prinsip ini kemudian menjadi panduan pendidikan di Indonesia yang seyakin penulis bahwa prinsip-prinsip ini bukan hanya sebatas jargon atau kata kata mutiara namun lebih dari sekedar itu ki hajar dewantara tentu memiliki ekspektasi (harapan) yang tinggi terhadap pendidikan di Indonesia. Pendidikan yang bukan hanya mentrasnfer ilmu pengetahuan namun juga pendidikan yang dapat membangun moralitas kaum-kaum terdidik.

Nampaknya ini menjadi bahan refleksi HADIKNAS untuk kita kaum terdidik yang memiliki tanggung jawab besar tehadap berjalannya Pendidikan di Indonesia.

Harapan penulis adalah semoga HARDIKNAS ini dirayakan tidak hanya sebatas acara-acara seremonial yang justru miskin substansial, tidak hanya mengibarkan bendera di setiap apel dan upacara sekolah, tidak hanya memasang banner ataupun spanduk besar dengan ucapan ‘selamat Hari Kebangkitan Nasional’ melainkan kita dapat memahami substansi dan isi dari Hari kebangkitan nasional. Sekaligus semoga Hardiknas ini menjadi spirit dan semangat untuk kita dalam menggeluti dunia pendidkan.


"Bangsa Yang Besar, adalah Bangsa yang bisa Menghargai Jasa para Pahlawannya"
Semangat Berkarya untuk Indonesia Berkemajuan
Salam MERAH


















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Janur di sepanjang jalan.

Asssabi(Q)unal Akhirun

Mengundang Syahadat Dengan Cinta