Kala Luwak Termenung.


"sepertinya aku tidak akan bertahan lama lagi di dunia ini" pungkas luwak, pada kucing, pasrah.  tubuhnya lemas, luwak bicara dari dalam kandang. 

Mendengar itu, kucing bertanya balik "loh, kenapa begitu wak". Kucing heran.  Baginya Kehidupan itu anugerah, walau sesekali kucing di sakiti oleh jenis hewan homo sapiens. Tapi, setidaknya kucing bisa bebas, kabur berkeliaran kemanapum dia mau.
"kamu enak, bisa bebas. Sedangkan aku?  Di buru, ditangkap, dan ekploitasi" jelas luwak membandingkan kucing dengannya.  

Waktu sudah malam, waktunya Herman memberi makan luwaknya di kandang,  berharap besok pagi bisa menuai hasil kopi yang keluar dari anus luwak. 

Herman memiliki usaha produksi kopi luwak. Di rumah, herman punya beberapa luwak peliharaannya. Luwak-luwak yang herman miliki di jadikan alat produksi untuk menghasilkan biji kopi,  dan meraup rupiah sebanyak banyaknya. 

Dari banyak luwak yang herman pelihara,  kesemuanya memiliki karakteristik yang berbeda.  Ada luwak yang begitu pasrah,  menerima, bekerja,  berkali kali mengasilkan kopi, mengikuti apa yang herman arahkan,  ada juga luwak yang kritis,  tidak mau di intervensi,  di paksa sedemikian rupa,  dan merindukan hidup bebas seperti hewan hewan liar pada umumnya. 

Si bolga herman menamainya.  Si bolga adalah luwak yang tanpa sepengetahuan herman memiliki nalar kritis dan tidak mau di dikte dan di jadikan alat produksi untuk menghasilkan kopi.  Herman hanya mengetahui bolga adalah luwak yang paling susah di atur.  Susah di andalkan,  dalam sebulan dia hanya sekali atau dua kali menghasilkan biji kopi saja.  Berbeda dengan luwak-luwak lainnya,  yang dengan lahap menghabiskan kopi-kopi pemberiannya,  untuk kemudian di keluarkan kembali dari anusnya.  

Bolga sudah beberapa kali memprovokasi luwak luwak lainnya. Bahwa apa yang dilakukan herman, baginya sangat lah tidak hewani. Menurutnya herman hanya peka pada persoalan-persoalan manusiawi,  tapi tidak dengan persoalan hewani. 

"herman tidak pernah tau dan mau tau seperti apa rasanya menjadi seekor hewan"  jelas Bolga pada teman luwak lainnya. 

"yasudah, aku, bensa, dan benta,  bagaimanapun tidak setuju dengan pendapatmu." Tegas benco, " lagi pula apa yang telah dilakukan oleh Herman adalah baik. Kami merasa dirawat, di beri makan, dan dipelihara dengan sangat baik. Kami bersyukur telah dipertemukan dengan orang seperti Herman.  Untuk itu tugas kami disini bekerja untuk herman,  dan sebagai imbalan, kami di berikan upah,  makan, tempat tinggal, secara gratis" jelas Benco pada si Bolga diikuti persetujuan teman luwak lainnya.

"betul Ga, aku setuju atas apa yang dikatakan benco, tanpa Herman, barangkali kita tidak tahu akan seperti apa, mungkin sudah dapat majikan galak,  penjual yang sadis,  atau sudah dicincang,  dimasak, di jadikan daging  yang memang telah menjadi kodrat kita sebagai hewan untuk di bunuh, dimakan habis manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya" Pungkas Bensa,  memperjelas dan mendukung pernyataan benco sebelumnya. 

Si Bolga merasa tidak punya pendukung,  benta tentu saja akan ikut teman dekatnya,  benco dan bensa. "mmm...  Okeh kalau begitu,  aku,  tidak ingin menciderai demokrasi diantara kita,  aku juga tidak mau mengorbankan pertemanan hanya karena persoalan setuju dan tidak setuju"  sahut Bolga pada tiga temannya, ketiganya mendengarkan khidmat,  si bolga melanjutkan "tapi,  teman teman,  izinkan aku untuk memperjuangkan apa yang aku yakini kebenarannya,  demi sebuah kebebasan yang sejak lama aku merindukannya"  tutup Si bolga dengan nada lemas. 

Gelap turun, cuaca sangat dingin,  ketiga temannya masih bekerja untuk herman, memproduksi biji kopi. Bolga terdiam di pojok, berdiri di sudut kandang diantara lubang lubang udara,  tatap bolga memperhatikan gerak kehidupan di luar kandang. Kucing yg sudah lama menjadi sahabat curhatnya, sibuk menggaruk-garuk tubuhnya. Bolga sedang bicara pada dirinya sendiri,  dia mau hidup seperti si Kenji,  kucing liar yang sesekali di beri makan ikan oleh Herman.  Walau berstatus kucing liar,  Kenji seperti telah dapat mengambil hati herman.  Beberapa kali Bolga merasa iri atas perlakuan herman pada kenji kucing liar tersebut.  Haruskah Bolga menyesali telah tercipta sebagai luwak. Mengapa tidak kucing liar saja. Tapi untuk apa?  Penyesalan hanya membuat kondisi nya jauh lebih rumit. Bolga hanya mesti menerima dan melakukan apa yang Bolga bisa lakukan. 

Kenji mendekat, Bolga cepat-cepat tersadar dari lamunannya nya. Seperti tahu betul isi hati dan keresahan bolga, tetiba kenji mengatakan "Bolga, percayalah setiap makluk tercipta atas resikonya masing-masing, aku yang menurutmu bebas, tetap saja menanggung resiko atas kebebasan yang aku dapatkan. Berfikirlah ulang tentang arti kebebasan. Jangan biarkan dirimu terpuruk hanya karena keegoisan dan keinginanmu. Lakukan apa yang saat ini bisa kau lakukan. Sebab,  tak ada hari kemarin,  tak ada hari esok,  tapi yang ada adalah hari ini." tangan kenji memegang tiang menatap bolga dengan segala keyakinannya.

"aku akan pergi,  mencari makanan di luar. Mengemis pada makluk lain, memeriksa tong sampah di jalan jalan, lain waktu kita bertemu.  Herman orang baik,  tak lama lagi dia akan memberimu makan. Balaslah kebaikan orang dengan lebih baik"  tutup Kenji,  meninggalkan Bolga dalam tatapannya yang kosong. Kenji berbalik arah jalan keluar pintu, mata Bolga tetap terjaga memerhatikan Kenji. Mulutnya tertutup, matanya berlinang, hatinya berbicara,  "Terima kasih kenji,  kamu juga teman yang baik".  Ujarnya dalam hati. 

Tak berapa lama,  suara motor di jalan raya terdengar kencang dari luar rumah Herman. Kenji tepat berada di tengah jalan, suara Bolga tak terdengar ke telinga Kenji. dengan cepat motor melindas tubuh kenji. Terseret jauh, sampai lenyap dari pandangan Bolga. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Janur di sepanjang jalan.

Asssabi(Q)unal Akhirun

Mengundang Syahadat Dengan Cinta