Tersandera dalam sejarah.


"Sejarah umat manusia adalah sejarah perang. Peradaban dibangun melalui perang, Manusia bertahan dengan perang. Bahkan agama disebarkan dengan perang. Sebagian perang karena terdesak atau naluri bertahan. Tapi banyak yang berperang, karena ingin menguasai, menggeser dan menaklukkan. Perang adalah pesta, unjuk kekuatan untuk menakuti, teror mengikuti. Perang tak meninggalkan apapun, kecuali tiga hal; kerusakan, tangis dan monumen." (M. Iqbal Suma).
ㅤㅤ
Kabar internasional cukup mengejutkan. Donald Trump membuat geger mata dunia. Trump seperti memancing ikan di air keruh. Palestina menangis, air matanya kini tak dapat terbendung. Israel tertawa gembira, dengan senjata, baja dan peluru memblokade massa demonstran Palestina yg beribadah di bekas negerinya. 
ㅤㅤ
Dalam sejarah manusia, perang punya tiga alasan; Gold, Glory, Gospel. Merampas sumber daya, merebut wilayah kekuasaan dan menyebarkan ajaran. Dan Julius Cesar, sang jenderal Romawi, berujar Vini, Vidi, Vici. Saya datang, saya taklukkan, saya menang.
ㅤㅤ
Tetapi untuk saat ini, Bagaimanapun perang demi motivasi apapun tak dapat dibenarkan, ditengah sekat negara yg telah memiliki aturan dan konstitusi/hukum internasional. Dimana setiap negara tidak bisa seenak jidat menyerang negara lain. Kalau demikian, berarty ada kesepakatan yang dilanggar, dan ada sanksi/konsekuensi yg mesti diterima.
ㅤㅤ
Israel dan Palestina memang sama sama memiliki sejarah. Tetapi menciderai sejarah dengan membuat sejarah baru yg memalukan adalah dosa sejarahnya sendiri. Publik tidak diam, kita tidak hidup di zaman kuno. Kita hidup di zaman virtual dimana jutaan pasang mata turut terlibat bertanggung jawab dalam menjalankan ketertiban dunia dan memenuhi hak-hak kemanusiaan. 
ㅤㅤ
Kalau aku boleh menganalogikan, dalam wayang, seberapapun kuatnya kurawa, raksasa kalantaka dan kalanjaya yang sulit dikalahkan oleh Pandawa. Tetap saja mereka akan tetap dicitrakan, diceritakan oleh dalang sebagai kelompok yang mewakili karakter antagonis, jahat, dan penuh muslihat. Sebaliknya, se-kalah/se-tidakberdaya apapun Pandawa, melawan Kurawa, mereka akan tetap dikenal, diceritakan sebagai kelompok yang protagonis, baik, memiliki jiwa kesatria, bijaksana, dan menjadi percontohan "Budi luhur" umat manusia.. 











Komentar

Postingan populer dari blog ini

Janur di sepanjang jalan.

Asssabi(Q)unal Akhirun

Mengundang Syahadat Dengan Cinta